Tuesday, 1 November 2016

Ketika Takdir Berbicara

Musibah adalah salah satu takdir. Dan selalu ada hal yang patut disyukuri dari setiap peristiwa.

Ahad pagi itu. 16 Oktober 2016.

Kujahit kerudung baru untuk menghadiri pernikahan putera seorang guru. Satu jam sebelum jam yang ditentukan, kerudung sudah jadi. Semalam, kainnya sudah saya cuci.

Setengah jam menjelang, saya sudah siap.

"Mama berangkat, yaaa." Seru saya pada anak-anak. Thariq dan Farid kompak menjawab sementara Zaki, as always, menyatakan keberatannya.

Dan seperti biasa, Thariq berhasil menenangkan si tengah.

"Ok, kalian mandi dan rapikan diri. Mama sekejap, je. Nanti lepas dari kondangan kita potong rambut dan pergi ke rumah Mbah. Yang Mi syukuran."

Anak-anak senyum.

Diantar Thariq, dibukakan pagar, saya berangkat. Bermotor. Mampir beli amplop, sekalian saya masukkan hadiah untuk tuan rumah, ke dalam amplop.

Saya bayangkan, nanti akan berjumpa dengan teman-teman di sana.

Selesai membeli amplop, saya nyalakan motor. Seraya menjalankan motor perlahan, saya lantunkan doa naik kendaraan.

Minggu yang lengang.

Keluar dari gate perumahan, tetap sepi. Saya melenggang santai. Setelah Graha Dewata, saya belok kanan. Masih di tepi kiri, saya lihat spion. Sepi. Saya tekan lampu sein kanan sebelum kemudian bergerak ke tengah. Beberapa meter lagi saya akan belok kanan. Tepat di tengah, saya lihat spion. Tampak kilatan lampu motor di belakang saya. Kelihatannya motor itu kencang sekali.

Saya belokkan motor ke kanan.

Blast!

Dalam hitungan detik, saya merasa sudah si bawah. Di aspal. Terseret beberapa meter, memcoba berhenti tapi tak bisa serta merta melakukannya. Saya lihat orang ramai mengerumuni saya. Motor sudah jauh tertinggal di belakang. Sepatu terlepas, robek. Dan kaos kaki saya berlubang dengan darah dan kulit yang sobek.

Seorang gadis mendekat. Mengaku menabrak.

Tanpa bisa menahan diri, saya marahi dia. Saya sudah memasang sein, dia malah ikut ke kanan. Harusnya ia ambil kiri. Saya tanya SIM, dia ga punya. Makin sebel jadinya.

Dua puluh menitan saya duduk di kursi depan pos satpam. Seorang akhwat yang bertugas sebagai panitia nikahan menghampiri. Berkata akan memberi obat. Tunggu punya tunggu tak ada apa-apa. Sementara gadis yang menabrak saya terlihat menghubungi keluarganya.

Karena tak tahan dengan nyeri di paha dan punggung kaki, saya minta diantar pulang. Sayangnya, semua tampak sibuk jadi panitia. Sementara para ikhwan tampak kikuk. Wallahua'lam, entah apa alasan mereka.

Pagi itu, saya tak jadi ke kondangan. Saya balik rumah tanpa sempat masuk ke sang guru yang sedang berbahagia.

Sesampai di rumah, anak-anak terkejut melihat Mamanya terluka. Terlebih saat saya cerita. Tampak benar mereka ikut kesal.

Luka saya cuci. Saya beri betadine dan gamat. Darah terus mengucur karena luka cukup lebar dan dalam.

Saya memilih tiduran di kasur seraya menghubungi orang-orang tersayang.

Mas dan Kholis sepakat membawa saya ke UGD. Saya nurut. Tak punya pilihan.

Jam 12, Kholis datang. Memesan Ayam Yogya dab Pizza untuk keponakannya lalu mengajak saya
 ke RSSA.

Allah...

Sesampai di RSSA, saya langsung ditangani. Tensi 140/85. Iyalah, deg-degan!

Gelang pasien dipakaikan dan saya pun masuk ICU. Diperiksa dokter residen spesialis syaraf. Aman. Spesialis tulang. Dicek. Ada kemungkinan patah tulang.

Dalam masa 8 jam di ICU, saya di Xray 2 kali. Dijahit. Diobservasi. Dan tepat pukul 7.30 saya diizinkan pulang.

Ada banyak cerita terkait ini.

Tentang adik siaga. Suami yang tanggung jawab. Dan kasih sayang tak bertepi Ibu Bapakku.

Alhamdulillah ala kulli hal...

Saturday, 7 May 2016

Anak dan Rezekinya



Catatan Awal Tahun 2016

Setiap anak lahir dengan rezeki masing-masing. Saya kembali menyadari kebenaran kalimat itu. Seperti pengalaman kami awal tahun ini.

Tidak seperti abangnya yang ketika pindah ke Malang sudah mendapat kepastian sekolah baru yang akan dituju, Zaki Hannan tidak demikian. Bocah lelaki Sembilan tahun kami itu masih belum jelas akan sekolah di mana. 

Usaha Ayahnya untuk mencarikan sekolah, September lalu, sedikit mengalami kendala.
Zaki yang selama ini terbiasa sekolah di tahfidz, menginginkan celana panjang untuk seragamnya. Sementara Lab School Universitas Negeri Malang, SD yang disarankan oleh kawan baik Sang Ayah, tidak menyediakan kebijakan itu. Di sana, celana paling panjang adalah beberapa senti di bawah lutut. Permintaan khusus Zaki untuk memakai celana panjang pun ditolak dengan alasan tidak sesuai peraturan sekolah. Bahkan setelah Ayahnya menjelaskan pun, kepala sekolah hanya bisa menjanjikan untuk membahasnya, bukan menyetujuinya.

Berbekal informasi itu, beberapa hari setelah kami tiba di Malang pun, suami menuruti keinginan saya untuk mencoba masuk ke MIN Malang 1. Tragis, sekolah yang saya idamkan untuk sekolah si tengah itu  menolak mentah-mentah pendaftaran Zaki, dan meminta datang kembali bulan April 2016, untuk mengikuti prosedur penerimaan siswa baru secara reguler. Permintaan itu berarti Zaki harus menganggur beberapa bulan. Dan sebagai orang tuanya kami sangat paham, menganggur bagi Zaki bukanlah ide bagus. Ia, dengan latar belakang sekolah yang cukup longgar selama di JB, bisa-bisa malah menjadi malas bersekolah ketika waktunya tiba nanti. Maka serta merta kami mencoret MIN Malang 1 sebagai pilihan.

Beberapa hari menjelang akhir tahun 2015, Thariq dan Ayahnya kembali ke Lab school untuk memastikan diterimanya Zaki. Hasil akhirnya, Zaki diterima di kelas 3. Syukur kami haturkan ke hadirat Ilahi Rabbi. Bayangan tempat sekolah pun makin nyata di benak kami. Soal celana panjang, saya berhasil memengaruhi Zaki untuk tidak terlalu menuntut. 

“Aurat lelaki kan dari pusat sampai lutut, Zak. Jadi nanti kita buat celana tiga perempat, ya,” rayu saya sembari menunjuk pertengahan lutut dan tumit. Alhamdulillah ia menurut.
Sayangnya, berita bahagia itu tak berlangsung lama. Keesokan harinya, kami mendapat kabar bahwa Zaki harus mengikuti tes masuk sebab ada seorang calon murid baru dari Batam sementara kuota yang diterima hanya seorang saja.

“Wah, mana bisa, Yah? Mana paham dia Bahasa Indonesia? Bagaimana dengan Matematika? Mama dengar materinya jauh dibandingkan JB,” tanya saya resah.  “Coba Ayah pastikan.”

Tanpa banyak kata, suami pun memastikan informasi ini bahkan mengabari sang kawan baik yang sekarang sudah menjadi orang penting di UM dan suaranya dipertimbangkan. 

“Sepertinya itu hanya formalitas, Ma. Setidaknya begitu kata kawan Ayah.”

Sayangnya hati saya sudah merasa tak enak. Entah mengapa, rasanya seperti dipermainkan. Akhirnya kami sepakat untuk mencari alternative sekolah lain. 

Esoknya, tanggal 31 Desember, kami pun hunting. Tujuannya mencari SDN di sekitar rumah, yang dari luar tampak bagus. Yang tidak kumuh dan yang banyak pialanya. Aduh, konvensional banget pertimbangannya. Tapi untuk waktu yang sempit, kami rasa inilah pertimbangan paling masuk akal untuk mendapatkan sekolah terbaik bagi Zaki. 

SDN pertama yang kami datangi adalah SDN Dinoyo 1, dekat pintu air dan pintu masuk jalan menuju rumah. Sayangnya sekolah itu kosong. Memang tanggal segitu sudah memasuki liburan akhir tahun. Kami pun pergi dengan tangan kosong, menuju sekolah berikutnya: Brawijaya Smart School.
Seperti SDN Dinoyo 1, sekolah yang tampak megah itu pun terkunci. Suara ketukan di pagar tak membuat pemilik motor satu-satunya yang ada di halaman sekolah, datang menemui kami. Dua kali mendapati sekolah-sekolah kosong, semangat mulai mengendur. 

Dengan gontai, kami menuju SDN Percobaan. Sekolah yang dibina di lingkungan Universitas Negeri Malang. Alhamdulillah, di sekolah ini masih ada kegiatan. Kami bersyukur sekali ketika ternyata kepala sekolah pun ada di tempatnya. Sayangnya, sang kepala sekolah yang baru dipindah dari kabupaten itu tak pernah mendapati pindahan dari luar negeri. Sempat kami terkaget-kaget ketika beliau menyatakan bahwa Zaki akan dimasukkan ke kelas satu karena system pendidikan yang berbeda dari kedua negara. 

“Waduh, ya nggak gitu, lah, Pak. Umurnya kan sudah Sembilan tahun, masak balik kelas satu,” tanggap suami keberatan.
Akhirnya kami pamit setelah dijanjikan akan diberi keputusan minggu depan.
Hari itu, kami pulang dengan perasaan sedih. Esok sudah tahun baru. Tanggal 4 Januari anak-anak sudah kembali masuk sekolah setelah cuti semester ganjil. Dan Zaki belum mendapat sekolah.
**

Tanggal 3 Januari, kami kembali berniat untuk mencari sekolah. Niat itu kami sampaikan pada Bapak dan Ibu yang sudah seminggu ini tiap hari ke rumah, membantu mengawasi tukang.
“Ajaklah Zakinya,” saran Bapak. 

Tadinya aku berniat untuk pergi berdua saja dengan suami. Tapi mempertimbangkan saran Bapak, akhirnya kami mengajak Zaki ikut serta. 

Dengan berbaju batik, si tengah duduk di tengah motor, kami apit. 

“Ke mana, ni, Ma? Gimana kalau ke Kauman 1?”

Entah, saya yang biasa mendebat usulan suami karena biasanya punya pertimbangan yang berbeda dengannya, hari itu mmenurut. Setuju seratus persen. Sepakat bulat. Sepenuh harapan kami pun berangkat ke sekolah yang terletak di sebelah Masjid Jami itu. 

Memasuki gerbang  SD favorit di Malang itu, selaksa doa saya panjatkan. Saya meminta Zaki berdoa, meminta yang terbaik dari Allah untuknya. Ia mengangguk.

Masuk ke ruang kepala sekolah. Duduk berjajar.
Bu Anita datang menemui. 

“Iya, Bu. Jadi saya kembali datang kemari, membawa Zaki.”

“Oh, ini yang mau sekolah, ya? Kelas 3, ya?”

Kami mengangguk. Bu Anita masuk kembali, pamit melihat kemungkinan kelas kosong. Datang kembali dengan wajah berbinar. 

“Alhamdulillah ada bangku untuk Zaki,” serunya menggetarkan jantung kami.

“Alhamdulillah, rezekimu, Nak,” saya terpekik gembira. Zaki tersenyum tenang. 

“Okey, karena sudah deal, saya pamit dulu, ya. Sebentar lagi Bu Retno datang, mengurus semuanya,” ujar Bu Anita. 

Kami mengangguk, mempersilakan. 

Proses berikutnya cepat sekali. Sebagai tanda syukur kami menyumbang sesuai ketentuan yang ditetapkan, lima juta rupiah.
Dan berita gembira kembali datang karena sejak dulu, SDN Kauman 1 menyediakan celana panjang untuk siswanya. 

Allahu Akbar!

Betapa setiap anak memiliki rezekinya sendiri-sendiri. Terima kasih, Allahku. Atas rezeki besar pendidikan si tengah kami. 

Semoga kau dapatkan ilmu manfaat di tempat terbaik pilihan Allah itu, ya Nakku. Aamiin aamiin yaa robbal ‘alamiin.**

Tuesday, 15 December 2015

Yogurt Cinta

Semalam, kami pesta yogurt. Bagaimana tidak disebut pesta, jika yogurt yang biasanya menjadi sajian istimewa itu bisa kami nikmati sesuka hati. Yogurt yang saya campur cincangan stroberi ini begitu lembut dan nikmat. Pas manisnya. Pas asemnya. Pas segernya. Hmm, tak terbayangkan, deh! Seriuuuss! Yogurt di kedai mah, lewaaattt...

Ya, semua berkat ilmu baru yang ditularkan oleh Mbak Dhini, sahabat cantik sholihah saya. Jadi cerita lengkapnya begini.


Hari itu, minggu lalu kalau tidak salah, Ibu-ibu istri dosen Indonesia yang bekerja di UTM ini, mengadakan latihan bareng membuat getuk. Benar, makanan berbahan dasar singkong itu sedang naik daun. Semua menyukai getuk buatan Mbak Artha. Singkat cerita, disepakatilah latbar getuk.

Sehari sebelumnya, Mbak Dhini menawarkan starter yogurt via WA. Membuat yogurt sendiri? Whuaaa, tidak pernah terbayang. Apalagi mengingat kami mau back for good. Kebayang rasa yogurt di minimarket dekat rumah yang terlalu cair, yang rasanya kurang pas. Dan yang paling mengerikan adalah bayangan harganya yang terasa muahal, hihihi. Maka, dengan bangga, saya pun menceritakan niatan ini pada Thariq.


"Wah, beneran, Ma? Mama buatlah yang banyak," tanggap Thariq. Saya pun mengulum senyum seraya membayangkan sewadah besar yogurt buatan sendiri.

Qodarullah, saat latbar, puteri cantik Mbak Dhini sakit. Akhirnya mendapat starter pun ditunda. Beberapa hari kemudian, saya mendapat kesempatan ke rumah beliau. Dan saya pun mendapatkan sewadah starter asli Jepang, yang bisa digunakan untuk membuat 2l yogurt. 

Antusias, saya pun bertanya banyak hal. 

Rupanya, starter itu adalah yogurt plain merk apa saja. Yang penting plain. Sayangnya, yogurt plain di Malaysia ini terlalu asam (begini kata Mbak Dhini. Saya sendiri belum pernah merasakannya, hihi. Biasa beli yang sudah ada rasa). 

Nah, dalam sebuah wadah yang bersih, dua sendok makan yogurt plain ini dicampur dengan 2l fresh milk dan 6 sendok makan gula pasir. Aduk sampai rata lalu tutup dengan tissue dapur. Letakkan di atas kulkas. 12 jam kemudian, yogurt dah siap disantap. 

"Ha? Sesederhana itukah, Mbak?" tanya saya.

"Iya, benar, Mbak Ar," jawab Mbak Dhini. "Kalau lihat di youtube memang susunya dihangatkan dulu. Tapi saya nggak begitu juga jadi. Yang penting susunya suhu ruang. Nanti kalau sudah jadi, ambil sebagian untuk dijadikan starter berikutnya."

"Masya Allah, mudahnya. Doakan saya berhasil, ya, Mbak," ujar saya sewaktu pamit. Sepanjang jalan, saya berniat untuk segera membuat yogurt ini dan menernaknya. Demikian Mbak Dhini memberi istilah. 

Kok menernak, sih?

"Iya, kalau punya yogurt atau kefir, itu serasa punya ternak. Selama kita rajin memeliharanya, maka kita akan terus punya. Ini bisa dijadikan lahan bisnis, nih Mbak Ar," suara Mbak Dhini terngiang di telinga dan membuat saya tersenyum sendiri. 

Dan benar saja, sewaktu saya mencoba membuatnya, memang sesimple itu. Alhamdulillah...

Jazakillah khayran katsira untuk Mbak Dhini... ilmunya barokah, insya Allah.

Inilah kenangan terindah dari Mbak untuk kami. Insya Allah jumpa lagi di Bandung, ya, Mbak <3 <3






Monday, 2 November 2015

Ayam Bakar Bumbu Padang

Tersenyum saya melihat sebuah iklan yang menyorot tentang cinta dan kebutuhan anak pada ayah mereka. Ah, soooo sweeeettt.

Ayah memang seringkali mencintai dalam diam. Kata adik lelaki saya, jika kita belum pulang ke rumah waktu kecil dulu, sebenarnya yang risau adalah Ayah. Ibu yang menelepon kita, tapi itu atas perintah Ayah. Dan benar saja. Waktu kemarin dia menginap di JB dua minggu, pas dia belum pulang-pulang *waktu itu ada event besar di Danga Bay*, Ayahnya Thariq pun sibuk.

"Ma, telepon Kholis."

"Nanti juga pulang, Yah. Dia kan sudah besar."

"Teleponlah, Ma. Jangan-jangan dia kehabisan bus. Biar nanti Ayah jemput."

Nah kaaaannn? Terbukti deh, ga pake lama, hehehe.

Begitulah. Dan jika mau diceritakan tentang kekhawatiran Bapak sewaktu saya gadis dulu, wah-wah, bisa jadi satu novel deh kayaknya. Hihihi...

Kembali ke Ayahnya anak-anak. Kadang, saya kesal kalau beliau sudah mulai menggoda anak-anak. Mengganggu Thariq, menggoda Zaki sampai Zaki marah-marah, mengangkat tinggi-tinggi Farid sampai teriak-teriak, menggelitik anak-anak yang sedang tidur, dan banyak lagi. Tapi sekarang saya sadar, mungkin Mas sedang mengukir kenangan untuk anak-anaknya. Mungkin, kenangan inilah yang akan mengikat kami kelak, saat mereka sudah dewasa.

Mungkin, suatu hari nanti, mereka akan melakukan hal yang sama pada cucu-cucu kami. Ahhh, jadi melow.

Bdw, tiga ekor ayam dara yang saya beli di pasar tani Ahad kemarin, sudah masak dan hampir habis. Semalam, sembari membuat kue sus untuk dijual, saya mengolahnya menjadi dua olahan. enam potong saya bumbu padang dan enam potong saya presto untuk nanti jadi ayam tulang lunak. Rencananya, semuanya akan saya bakar, ga digoreng seperti yang sudah-sudah.

Alhamdulillah, pohon kunyit makin lebat berdaun. Tiga lembar bisa dipakai untuk ayam bumbu padang.

Saya memakai resepnya Mba Endang di www.justtryandtaste.com untuk tulang lunak dan Sajian Sedap untuk ayam bakar bumbu padang.

Alhamdulillah semua suka.

Pagi tadi, saya tinggal menanak nasi dan membuat urap daun kol. Alhamdulillah :-)

Sunday, 1 November 2015

Sayur Asem Jakarta

Sejak memutuskan untuk bergabung mengaji bersama adik-adik pekerja kilang, hari Ahad selalu menjadi hari yang sibuk. Bahkan malam minggu pun dihabiskan dengan membereskan semua pekerjaan seperti setrika, nyapu ngepel, membereskan rumah dan sebagainya agar semua pekerjaan bisa selesai sebelum tamu agung itu datang.

Terlebih jika ada pesanan kue dari Mak Jah di Ahad pagi. Wuah, berlipat deh kesibukan :-)
Setelah sholat subuh langsung buat vla, masak nasi, buat lauk untuk hari itu, masak sayur, isi vla, membantu Zaki menyiapkan diri ke sekolah lalu mengantar Zaki sekaligus mengantar kue.

Nah, Ahad pagi juga waktunya saya harus ke pasar tani Sri Pulai. Sebab di sanalah tempat dijual ayam kampung dengan harga murah. Betul! Murah banget. Sebelum mengenal Kak Haeriyah, penjualnya, seekor ayam kampung di pasar awam saya dapatkan antara RM 35-40. Di pasar tani, harga segitu bisa dapat dua ekor ayam besar-besar! Belum lagi ayam daranya. Di pasar awam seekor 25 di Kak Haeriyah cuma RM 9,7. Whuahhh, gimana ngga memperjuangkan harus ke sana coba?

Belum lagi sayurannnya. Di pasar tani, ada seorang Pak Cik sepuh yang jualan sayuran kampung seperti kemangi, kecombrang, chili kampung dan sebagainya. Saya langganan di sana. Alasannya, masih karena harga. Jika di Kipmart kita bayar seringgit seikat, di Pak Cik cuma 50 sen saja, hehehe *kekep dompet

Buah? Di pasar tani ini, buahnya beraneka macam. Pisangnya lebih manis dibandingkan di pasar awam. Pisangnya pun berbagai jenis, dari pisang berangan, kepok, bahkan pisang raja pun ada. Jambunya juga crunchy dan juicy. Kalau lagi musim, cempedaknya murah.

Nah, yang ngangenin adalah kue cucurnya. Sedap. Satu pack cuma RM 5. Bikin sendiri ga mungkin, susah, hehehe.

Kembali ke pasal ayam kampung, jika dulu saya sampai mengantri hampir sejam untuk dapat sekresek ayam yang sudah dipotong sesuai selera (kadang malah kehabisan), belakangan saya memilih untuk memesan sehari sebelumnya. Alhamdulillah, nama saya mudah melekat di ingatan Kak Haeriyah dan suaminya. Jadi begitu kepala saya nongol, orangnya langsung nyebut, "Bang, Aryyyy!" hahahaha...

Ahad kemarin, saya punya waktu agak banyak karena ada cuti peristiwa akibat JDT, tim bola Johor Bahru, menang piala AFC. Hmmm, senangnyaaa. Saya bisa belanja dengan tenang :-D

Sepanjang jalan menuju pasar tani, saya memikirkan menu untuk adik-adik kilang itu. Alhamdulillah ketemu! Sayur asem, goreng asin, rempeyek udang dan sambel terasi. Kuenya, sus aja. Saya sengaja membuat agak banyak, agar ada sisa untuk snack adik-adik sholihah itu.

Pulang dari pasar langsung eksekusi. Bersihkan ayam dan cuci udang, masukkan freezer. Masak sayur, goreng terasi, bikin sambel, goreng udang, goreng asin. Bikin teh. Setelah sayur masak, dua orang dari Cempaka, Detty dan Lisda datang. Saya pun meminta izin melanjutkan pekerjaan. Tepat setelah semua selesai, tiga orang dari Taman Rinting datang. Dan ketika mengaji sudah dimulai, yang dari Cendana pun berdatangan. Alhamdulillah.

Siang itu, kami makan dengan nikmat. Alhamdulillah, semua tandas. Termasuk sus di wadahnya :-)

Berikut ini resep sayur asam:

2 liter air, didihkan di panci stainless steel
1 buah labu siam ukuran besar atau 2 buah ukuran sedang, potong kotak-kotak
15 lenjer kacang panjang, potong pendek
setengah bagian kubis, potong-potong
1 ikat daun melinjo, jika ada (kemarin saya lupa beli *nyengir* padahal udah diingat-ingat)

Bumbu haluskan:
2 buah cabe merah besar, buang biji
10 butir bawang merah kecil
3 siung bawang putih
4 buah kemiri sangrai
2 sdm terasi
1 sdt asam jawa adabi
100gram gula jawa, jika kurang manis tambahkan gula pasir
garam secukupnya

Caranya:
1. Masukkan beberapa lembar salam (jika ada salam merah, lebih harum) dan lengkuas ke dalam rebusan air mendidih
2. Masukkan kacang panjang dan labu lalu tambahkan kubis dan daun bawang, tambahkan gula merah, garam dan gula pasir
3. Di wajan lain, masak blenderan bumbu sampai harum, baru masukkan ke dalam panci
4. Cicip rasanya. Sayur asam harus pas asam, manis dan asinnya. Kalau kata saya mah, sayur yang enak itu yang cenderung manis asem :-)

Sambel terasi:
10 buah cabe rawit merah
1 buah cabe merah besar
2 buah bawang merah besar
1,5 tomat ukuran kecil, potong. Satu tomat dibagi empat.
2 butir bawang putih

Semua bahan digoreng sampai layu, blender, goreng kembali lalu tambahkan 3/4 sdt garam
dan 5 sdt gula. Goreng sampai harum.
Sebenarnya, sambel itu enaknya diulek. Tapi... waktunya ga cukuuuuppp, ahaha.

Terima kasih sudah mampir dan selamat mencoba yaaa...







Thursday, 15 October 2015

Risoles Diabetik

Catatan Selasa, 14 Oktober 2015

Siang yang terik. Sudah beberapa bulan ini, JB terasa panas. Ditambah jerebu yang terkadang pekat, membuat kami memilih untuk mengurung anak-anak di rumah. Seperti hari ini, saya memutuskan untuk belanja bahan makan siang sendiri. Saya tinggalkan Thariq dan Farid di rumah, sementara Zaki sekolah.

Cepat saja. Setelah mengambil dua papan tempe, sekotak sayur organik, satu pak ikan makarel segar dan dua buah pepaya california, saya pulang. Di perjalanan, Bob, putera kedua Mak Jah menelepon. Karena lampu lalu lintas sedang merah, saya pun mengangkatnya.

Ia memesan sus 30 pcs dan pie sayur. Hah? Pie sayur? Belum terbayang bentuknya. Maka saya katakan saja bahwa saya tak pernah membuatnya.

Beberapa menit kemudian, saat saya sudah sampai di halaman rumah, ia menelepon lagi. Kali ini, ia memesan risoles, 40 biji dengan syarat khusus.

"Jangan manis, ya, Kak. Dia orang tak makan manis. Jangan guna ayam. Carrot sama kentang dengan sayur lain, jer."

"Sayur lain apa, ya, Bang?" saya sedikit ngehang. Belum kebayang :-)

"Apa-apa saja lah, Kak. Kacang pies, ker?"

Tanpa berpikir lagi saya pun menyanggupinya. Setelah telepon ditutup barulah otak mulai berpikir. Hihi, telat, Jeng.

Proses berpikir terus berlanjut bahkan selama memasak makan siang. Hingga sesaat setelah selesai memasak, saya pun browsing, mencari pie sayur.

Alhamdulillah dapat dari web Sajian Sedap. Risoles sayur tak nak manis pun terbayang indah di mata*lebay

Singkat cerita, malam harinya saya ke Jusco lagi untuk membeli sayuran beku. Dan keesokannya, resep dalam bayangan itu pun saya eksekusi.

Nah, inilah resepnya, :-)

Bahan isi:
1 kg sayuran beku (wortel, jagung dan kacang kapri kupas), biarkan di suhu ruang sampai tak beku lagi, rebus sebentar sampai kacangnya lembut.
Seledri beberapa lembar

Bumbu:
tiga sendok minyak bunga matahari
3 minipak butter *merk anchor
1 buah bawang bombay ukuran besar cincang halus
1/2 sdm merica
1/4 sdm pala
400ml susu segar *saya memakai susu bubuk yang saya cairkan
2 sdt garam
5sdm terigu

Caranya:
1. Panaskan minyak dan butter sampai butter cair
2. Masukkan bawang bombay, masak sampai harum
3. Tambahkan gula, garam, merica dan pala, lanjutkan menumis sampai harum
4. Tambahkan terigu, aduk rata
5. Tambahkan susu, aduk sampai licin
6. Tambahkan sayuran beku dan seledri
7. Aduk sampai meletup-letup, angkat, dinginkan.

Masukkan ke dalam kulit risoles, gulung, celup ke putih telur dan gulingkan ke bread crumbs. Goreng sampai kecokelatan.

Kata Thariq, rasanya seperti biasa *nyengir
Kata salah satu staf Mak Jah, rasanya sedap.
Kata Mas Satriaku, rasanya sedaaaap. Lebih sedap dari risoles yang biasanya. Beliau sampai habis tujuh *nyengir lagi

Oh iya, resep kulit ada di blog ini juga yaaa. Tepatnya di resep Risoles Rogout Ayam. Selamat mencoba :-)



Monday, 12 October 2015

Ia Bermuka Masam

'Abasa

Ramadhan kemarin, bocah empat tahun itu ikut mendengarkan murottal Syeikh Mishary Rashid yang selalu disetel Mamanya di Ipad. Dan beberapa minggu berikutnya, tepat saat ia berulang tahun keempat, ia menunjukkan hafalannya. Di suatu siang, di mobil, setelah mengantar sang Abang.

Mama terkejut. 

"Masya Allah, Farid hafal 'Abasa, Nak?"

Farid, "Iya, Ma. Farid pandai mengaji."

Masya Allah, Mama terharu. Sekali lagi disuruhnya si anak memuroja'ah hafalannya dan ia berusaha membetulkan yang kurang betul.

Cara pengucapannya memang belum sempurna. Farid belum bisa menyebut R dengan jelas. Tapi insya Allah, yang dilafalkannya sudah benar. Runut. Sekaligus mengikuti cara Syeikh favorit anak-anak itu membaca. 

Sesampai di rumah, Mama merekamnya. 

Dan semalam, Mama memintanya untuk muroja'ah. Maka benarlah. Memberi ilmu pada anak-anak seperti menulis di batu, sedangkan memberi ilmu pada orang tua seperti menulis di air. Beda dengan Mama yang harus beberapa kali dibenarkan atas hafalan yang sudah dicapai di masa lalu, Farid tidak demikian. Ia lancar dan tidak mudah lupa. Allahu Akbar.

Terima kasih, Allah. Jagalah hafalanku dan hafalan anak-anakku, aamiin.


-------------------

Resep kali ini, adalah tentang sepaket pesanan adik-adik PPI. Mereka memesan lontong sayur lengkap, untuk memperingati Hari Raya Iedul Adha. Alhamdulillah, dengan budget yang mereka sediakan, Dear Cafe menyuguhkan lontong, sayur lodeh labu kubis tahu pong kacang panjang dan daging, kerupuk bunga, balado telor dan martabak telor. Alhamdulillah prosesnya lancar, tak menyulitkan.

Berikut resep sayur lodehnya:
Bumbu halus:
Bawang merah
Bawang putih
Cabe merah besar
Laos
Kemiri
Ebi sangrai yang sudah dihaluskan dengan blender


Caranya: 
Tumis bumbu sampai wangi, tambahkan daun jeruk dan daun salam, lanjutkan menumis sampai makin wangi.

Di panci terpisah sudah direbus berbagai sayur sampai setengah lunak.


Masukkan tumisan bumbu dalam panci sayur, aduk-aduk, tambahkan gula garam dan merica, biarkan meresap

Masukkan santan pekat sampai kuah lontongnya terlihat pekat oleh santan

Tambahkan potongan daun bawang dan bawang goreng, matikan api

Hmmm... jadi laper :-P