Sejak memutuskan untuk bergabung mengaji bersama adik-adik pekerja kilang, hari Ahad selalu menjadi hari yang sibuk. Bahkan malam minggu pun dihabiskan dengan membereskan semua pekerjaan seperti setrika, nyapu ngepel, membereskan rumah dan sebagainya agar semua pekerjaan bisa selesai sebelum tamu agung itu datang.
Terlebih jika ada pesanan kue dari Mak Jah di Ahad pagi. Wuah, berlipat deh kesibukan :-)
Setelah sholat subuh langsung buat vla, masak nasi, buat lauk untuk hari itu, masak sayur, isi vla, membantu Zaki menyiapkan diri ke sekolah lalu mengantar Zaki sekaligus mengantar kue.
Nah, Ahad pagi juga waktunya saya harus ke pasar tani Sri Pulai. Sebab di sanalah tempat dijual ayam kampung dengan harga murah. Betul! Murah banget. Sebelum mengenal Kak Haeriyah, penjualnya, seekor ayam kampung di pasar awam saya dapatkan antara RM 35-40. Di pasar tani, harga segitu bisa dapat dua ekor ayam besar-besar! Belum lagi ayam daranya. Di pasar awam seekor 25 di Kak Haeriyah cuma RM 9,7. Whuahhh, gimana ngga memperjuangkan harus ke sana coba?
Belum lagi sayurannnya. Di pasar tani, ada seorang Pak Cik sepuh yang jualan sayuran kampung seperti kemangi, kecombrang, chili kampung dan sebagainya. Saya langganan di sana. Alasannya, masih karena harga. Jika di Kipmart kita bayar seringgit seikat, di Pak Cik cuma 50 sen saja, hehehe *kekep dompet
Buah? Di pasar tani ini, buahnya beraneka macam. Pisangnya lebih manis dibandingkan di pasar awam. Pisangnya pun berbagai jenis, dari pisang berangan, kepok, bahkan pisang raja pun ada. Jambunya juga crunchy dan juicy. Kalau lagi musim, cempedaknya murah.
Nah, yang ngangenin adalah kue cucurnya. Sedap. Satu pack cuma RM 5. Bikin sendiri ga mungkin, susah, hehehe.
Kembali ke pasal ayam kampung, jika dulu saya sampai mengantri hampir sejam untuk dapat sekresek ayam yang sudah dipotong sesuai selera (kadang malah kehabisan), belakangan saya memilih untuk memesan sehari sebelumnya. Alhamdulillah, nama saya mudah melekat di ingatan Kak Haeriyah dan suaminya. Jadi begitu kepala saya nongol, orangnya langsung nyebut, "Bang, Aryyyy!" hahahaha...
Ahad kemarin, saya punya waktu agak banyak karena ada cuti peristiwa akibat JDT, tim bola Johor Bahru, menang piala AFC. Hmmm, senangnyaaa. Saya bisa belanja dengan tenang :-D
Sepanjang jalan menuju pasar tani, saya memikirkan menu untuk adik-adik kilang itu. Alhamdulillah ketemu! Sayur asem, goreng asin, rempeyek udang dan sambel terasi. Kuenya, sus aja. Saya sengaja membuat agak banyak, agar ada sisa untuk snack adik-adik sholihah itu.
Pulang dari pasar langsung eksekusi. Bersihkan ayam dan cuci udang, masukkan freezer. Masak sayur, goreng terasi, bikin sambel, goreng udang, goreng asin. Bikin teh. Setelah sayur masak, dua orang dari Cempaka, Detty dan Lisda datang. Saya pun meminta izin melanjutkan pekerjaan. Tepat setelah semua selesai, tiga orang dari Taman Rinting datang. Dan ketika mengaji sudah dimulai, yang dari Cendana pun berdatangan. Alhamdulillah.
Siang itu, kami makan dengan nikmat. Alhamdulillah, semua tandas. Termasuk sus di wadahnya :-)
Berikut ini resep sayur asam:
2 liter air, didihkan di panci stainless steel
1 buah labu siam ukuran besar atau 2 buah ukuran sedang, potong kotak-kotak
15 lenjer kacang panjang, potong pendek
setengah bagian kubis, potong-potong
1 ikat daun melinjo, jika ada (kemarin saya lupa beli *nyengir* padahal udah diingat-ingat)
Bumbu haluskan:
2 buah cabe merah besar, buang biji
10 butir bawang merah kecil
3 siung bawang putih
4 buah kemiri sangrai
2 sdm terasi
1 sdt asam jawa adabi
100gram gula jawa, jika kurang manis tambahkan gula pasir
garam secukupnya
Caranya:
1. Masukkan beberapa lembar salam (jika ada salam merah, lebih harum) dan lengkuas ke dalam rebusan air mendidih
2. Masukkan kacang panjang dan labu lalu tambahkan kubis dan daun bawang, tambahkan gula merah, garam dan gula pasir
3. Di wajan lain, masak blenderan bumbu sampai harum, baru masukkan ke dalam panci
4. Cicip rasanya. Sayur asam harus pas asam, manis dan asinnya. Kalau kata saya mah, sayur yang enak itu yang cenderung manis asem :-)
Sambel terasi:
10 buah cabe rawit merah
1 buah cabe merah besar
2 buah bawang merah besar
1,5 tomat ukuran kecil, potong. Satu tomat dibagi empat.
2 butir bawang putih
Semua bahan digoreng sampai layu, blender, goreng kembali lalu tambahkan 3/4 sdt garam
dan 5 sdt gula. Goreng sampai harum.
Sebenarnya, sambel itu enaknya diulek. Tapi... waktunya ga cukuuuuppp, ahaha.
Terima kasih sudah mampir dan selamat mencoba yaaa...
Sunday, 1 November 2015
Thursday, 15 October 2015
Risoles Diabetik
Catatan Selasa, 14 Oktober 2015
Siang yang terik. Sudah beberapa bulan ini, JB terasa panas. Ditambah jerebu yang terkadang pekat, membuat kami memilih untuk mengurung anak-anak di rumah. Seperti hari ini, saya memutuskan untuk belanja bahan makan siang sendiri. Saya tinggalkan Thariq dan Farid di rumah, sementara Zaki sekolah.
Cepat saja. Setelah mengambil dua papan tempe, sekotak sayur organik, satu pak ikan makarel segar dan dua buah pepaya california, saya pulang. Di perjalanan, Bob, putera kedua Mak Jah menelepon. Karena lampu lalu lintas sedang merah, saya pun mengangkatnya.
Ia memesan sus 30 pcs dan pie sayur. Hah? Pie sayur? Belum terbayang bentuknya. Maka saya katakan saja bahwa saya tak pernah membuatnya.
Beberapa menit kemudian, saat saya sudah sampai di halaman rumah, ia menelepon lagi. Kali ini, ia memesan risoles, 40 biji dengan syarat khusus.
"Jangan manis, ya, Kak. Dia orang tak makan manis. Jangan guna ayam. Carrot sama kentang dengan sayur lain, jer."
"Sayur lain apa, ya, Bang?" saya sedikit ngehang. Belum kebayang :-)
"Apa-apa saja lah, Kak. Kacang pies, ker?"
Tanpa berpikir lagi saya pun menyanggupinya. Setelah telepon ditutup barulah otak mulai berpikir. Hihi, telat, Jeng.
Proses berpikir terus berlanjut bahkan selama memasak makan siang. Hingga sesaat setelah selesai memasak, saya pun browsing, mencari pie sayur.
Alhamdulillah dapat dari web Sajian Sedap. Risoles sayur tak nak manis pun terbayang indah di mata*lebay
Singkat cerita, malam harinya saya ke Jusco lagi untuk membeli sayuran beku. Dan keesokannya, resep dalam bayangan itu pun saya eksekusi.
Nah, inilah resepnya, :-)
Bahan isi:
1 kg sayuran beku (wortel, jagung dan kacang kapri kupas), biarkan di suhu ruang sampai tak beku lagi, rebus sebentar sampai kacangnya lembut.
Seledri beberapa lembar
Bumbu:
tiga sendok minyak bunga matahari
3 minipak butter *merk anchor
1 buah bawang bombay ukuran besar cincang halus
1/2 sdm merica
1/4 sdm pala
400ml susu segar *saya memakai susu bubuk yang saya cairkan
2 sdt garam
5sdm terigu
Caranya:
1. Panaskan minyak dan butter sampai butter cair
2. Masukkan bawang bombay, masak sampai harum
3. Tambahkan gula, garam, merica dan pala, lanjutkan menumis sampai harum
4. Tambahkan terigu, aduk rata
5. Tambahkan susu, aduk sampai licin
6. Tambahkan sayuran beku dan seledri
7. Aduk sampai meletup-letup, angkat, dinginkan.
Masukkan ke dalam kulit risoles, gulung, celup ke putih telur dan gulingkan ke bread crumbs. Goreng sampai kecokelatan.
Kata Thariq, rasanya seperti biasa *nyengir
Kata salah satu staf Mak Jah, rasanya sedap.
Kata Mas Satriaku, rasanya sedaaaap. Lebih sedap dari risoles yang biasanya. Beliau sampai habis tujuh *nyengir lagi
Oh iya, resep kulit ada di blog ini juga yaaa. Tepatnya di resep Risoles Rogout Ayam. Selamat mencoba :-)
Siang yang terik. Sudah beberapa bulan ini, JB terasa panas. Ditambah jerebu yang terkadang pekat, membuat kami memilih untuk mengurung anak-anak di rumah. Seperti hari ini, saya memutuskan untuk belanja bahan makan siang sendiri. Saya tinggalkan Thariq dan Farid di rumah, sementara Zaki sekolah.
Cepat saja. Setelah mengambil dua papan tempe, sekotak sayur organik, satu pak ikan makarel segar dan dua buah pepaya california, saya pulang. Di perjalanan, Bob, putera kedua Mak Jah menelepon. Karena lampu lalu lintas sedang merah, saya pun mengangkatnya.
Ia memesan sus 30 pcs dan pie sayur. Hah? Pie sayur? Belum terbayang bentuknya. Maka saya katakan saja bahwa saya tak pernah membuatnya.
Beberapa menit kemudian, saat saya sudah sampai di halaman rumah, ia menelepon lagi. Kali ini, ia memesan risoles, 40 biji dengan syarat khusus.
"Jangan manis, ya, Kak. Dia orang tak makan manis. Jangan guna ayam. Carrot sama kentang dengan sayur lain, jer."
"Sayur lain apa, ya, Bang?" saya sedikit ngehang. Belum kebayang :-)
"Apa-apa saja lah, Kak. Kacang pies, ker?"
Tanpa berpikir lagi saya pun menyanggupinya. Setelah telepon ditutup barulah otak mulai berpikir. Hihi, telat, Jeng.
Proses berpikir terus berlanjut bahkan selama memasak makan siang. Hingga sesaat setelah selesai memasak, saya pun browsing, mencari pie sayur.
Alhamdulillah dapat dari web Sajian Sedap. Risoles sayur tak nak manis pun terbayang indah di mata*lebay
Singkat cerita, malam harinya saya ke Jusco lagi untuk membeli sayuran beku. Dan keesokannya, resep dalam bayangan itu pun saya eksekusi.
Nah, inilah resepnya, :-)
Bahan isi:
1 kg sayuran beku (wortel, jagung dan kacang kapri kupas), biarkan di suhu ruang sampai tak beku lagi, rebus sebentar sampai kacangnya lembut.
Seledri beberapa lembar
Bumbu:
tiga sendok minyak bunga matahari
3 minipak butter *merk anchor
1 buah bawang bombay ukuran besar cincang halus
1/2 sdm merica
1/4 sdm pala
400ml susu segar *saya memakai susu bubuk yang saya cairkan
2 sdt garam
5sdm terigu
Caranya:
1. Panaskan minyak dan butter sampai butter cair
2. Masukkan bawang bombay, masak sampai harum
3. Tambahkan gula, garam, merica dan pala, lanjutkan menumis sampai harum
4. Tambahkan terigu, aduk rata
5. Tambahkan susu, aduk sampai licin
6. Tambahkan sayuran beku dan seledri
7. Aduk sampai meletup-letup, angkat, dinginkan.
Masukkan ke dalam kulit risoles, gulung, celup ke putih telur dan gulingkan ke bread crumbs. Goreng sampai kecokelatan.
Kata Thariq, rasanya seperti biasa *nyengir
Kata salah satu staf Mak Jah, rasanya sedap.
Kata Mas Satriaku, rasanya sedaaaap. Lebih sedap dari risoles yang biasanya. Beliau sampai habis tujuh *nyengir lagi
Oh iya, resep kulit ada di blog ini juga yaaa. Tepatnya di resep Risoles Rogout Ayam. Selamat mencoba :-)
Monday, 12 October 2015
Ia Bermuka Masam
'Abasa
Ramadhan kemarin, bocah empat tahun itu ikut mendengarkan murottal Syeikh Mishary Rashid yang selalu disetel Mamanya di Ipad. Dan beberapa minggu berikutnya, tepat saat ia berulang tahun keempat, ia menunjukkan hafalannya. Di suatu siang, di mobil, setelah mengantar sang Abang.
Mama terkejut.
"Masya Allah, Farid hafal 'Abasa, Nak?"
Farid, "Iya, Ma. Farid pandai mengaji."
Masya Allah, Mama terharu. Sekali lagi disuruhnya si anak memuroja'ah hafalannya dan ia berusaha membetulkan yang kurang betul.
Cara pengucapannya memang belum sempurna. Farid belum bisa menyebut R dengan jelas. Tapi insya Allah, yang dilafalkannya sudah benar. Runut. Sekaligus mengikuti cara Syeikh favorit anak-anak itu membaca.
Sesampai di rumah, Mama merekamnya.
Dan semalam, Mama memintanya untuk muroja'ah. Maka benarlah. Memberi ilmu pada anak-anak seperti menulis di batu, sedangkan memberi ilmu pada orang tua seperti menulis di air. Beda dengan Mama yang harus beberapa kali dibenarkan atas hafalan yang sudah dicapai di masa lalu, Farid tidak demikian. Ia lancar dan tidak mudah lupa. Allahu Akbar.
Terima kasih, Allah. Jagalah hafalanku dan hafalan anak-anakku, aamiin.
-------------------
Resep kali ini, adalah tentang sepaket pesanan adik-adik PPI. Mereka memesan lontong sayur lengkap, untuk memperingati Hari Raya Iedul Adha. Alhamdulillah, dengan budget yang mereka sediakan, Dear Cafe menyuguhkan lontong, sayur lodeh labu kubis tahu pong kacang panjang dan daging, kerupuk bunga, balado telor dan martabak telor. Alhamdulillah prosesnya lancar, tak menyulitkan.
Berikut resep sayur lodehnya:
Bumbu halus:
Bawang merah
Bawang putih
Cabe merah besar
Laos
Kemiri
Ebi sangrai yang sudah dihaluskan dengan blender
Caranya:
Tumis bumbu sampai wangi, tambahkan daun jeruk dan daun salam, lanjutkan menumis sampai makin wangi.
Di panci terpisah sudah direbus berbagai sayur sampai setengah lunak.
Masukkan tumisan bumbu dalam panci sayur, aduk-aduk, tambahkan gula garam dan merica, biarkan meresap
Masukkan santan pekat sampai kuah lontongnya terlihat pekat oleh santan
Tambahkan potongan daun bawang dan bawang goreng, matikan api
Hmmm... jadi laper :-P
Ramadhan kemarin, bocah empat tahun itu ikut mendengarkan murottal Syeikh Mishary Rashid yang selalu disetel Mamanya di Ipad. Dan beberapa minggu berikutnya, tepat saat ia berulang tahun keempat, ia menunjukkan hafalannya. Di suatu siang, di mobil, setelah mengantar sang Abang.
Mama terkejut.
"Masya Allah, Farid hafal 'Abasa, Nak?"
Farid, "Iya, Ma. Farid pandai mengaji."
Masya Allah, Mama terharu. Sekali lagi disuruhnya si anak memuroja'ah hafalannya dan ia berusaha membetulkan yang kurang betul.
Cara pengucapannya memang belum sempurna. Farid belum bisa menyebut R dengan jelas. Tapi insya Allah, yang dilafalkannya sudah benar. Runut. Sekaligus mengikuti cara Syeikh favorit anak-anak itu membaca.
Sesampai di rumah, Mama merekamnya.
Dan semalam, Mama memintanya untuk muroja'ah. Maka benarlah. Memberi ilmu pada anak-anak seperti menulis di batu, sedangkan memberi ilmu pada orang tua seperti menulis di air. Beda dengan Mama yang harus beberapa kali dibenarkan atas hafalan yang sudah dicapai di masa lalu, Farid tidak demikian. Ia lancar dan tidak mudah lupa. Allahu Akbar.
Terima kasih, Allah. Jagalah hafalanku dan hafalan anak-anakku, aamiin.
-------------------
Resep kali ini, adalah tentang sepaket pesanan adik-adik PPI. Mereka memesan lontong sayur lengkap, untuk memperingati Hari Raya Iedul Adha. Alhamdulillah, dengan budget yang mereka sediakan, Dear Cafe menyuguhkan lontong, sayur lodeh labu kubis tahu pong kacang panjang dan daging, kerupuk bunga, balado telor dan martabak telor. Alhamdulillah prosesnya lancar, tak menyulitkan.
Berikut resep sayur lodehnya:
Bumbu halus:
Bawang merah
Bawang putih
Cabe merah besar
Laos
Kemiri
Ebi sangrai yang sudah dihaluskan dengan blender
Caranya:
Tumis bumbu sampai wangi, tambahkan daun jeruk dan daun salam, lanjutkan menumis sampai makin wangi.
Di panci terpisah sudah direbus berbagai sayur sampai setengah lunak.
Masukkan tumisan bumbu dalam panci sayur, aduk-aduk, tambahkan gula garam dan merica, biarkan meresap
Masukkan santan pekat sampai kuah lontongnya terlihat pekat oleh santan
Tambahkan potongan daun bawang dan bawang goreng, matikan api
Hmmm... jadi laper :-P
Kerajaan
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبَّاسٍ الْجُشَمِىِّ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ إِنَّ سُورَةً مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ وَهِىَ سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan pada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qotadah, dari ‘Abbas Al Jusyamiy, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ada suatu surat dari al qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat dan dapat memberi syafa’at bagi yang membacanya, sampai dia diampuni, yaitu: “Tabaarakalladzii biyadihil mulku… (surat Al Mulk)” (HR. Tirmidzi no. 2891, Abu Daud no. 1400, Ibnu Majah no. 3786, dan Ahmad 2/299).
Hampir pukul sebelas malam. Kulangkahkan kaki menuju kamar anak-anak dan kudapati keduanya sedang melafalkan Surah Al Mulk, yang sudah mereka hafal sejak awal tahun ini.
Masya Allah. Betapa haru hati ini. Allahku, jagalah mereka. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah, manusia yang paling Engkau cintai, berikanlah syafa'at kepada mereka dan muliakanlah mereka, aamiin.
Beberapa hari ini, Abang agak rewel karena Zaki selalu tidur di kamarnya. Ah, Nak. Andai kalian tahu, masa-masa kebersamaan ini akan kalian rindukan suatu hari, ketika kalian besar nanti, pasti kalian tak ingin berpisah satu sama lain. Pasti kalian akan selalu ingin bermain bersama-sama.
Selagi kecil, rajutlah kenangan indah untuk bekal kalian membesar nanti.
Hmm, mengingat anak-anak memang akan selalu menyisakan tarikan senyum di bibir kita. Semoga kita dikaruniai anak-anak sholih, yang kelak akan menjadi penyambung amal ketika kita sudah tak lagi ada di dunia ini, aamiin.
Hari ini, tak ada masakan istimewa. Tapi belakangan ada pesanan beberapa kali. Nah, kita upload resep lemper saja, ya.
Bahan:
Masya Allah. Betapa haru hati ini. Allahku, jagalah mereka. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah, manusia yang paling Engkau cintai, berikanlah syafa'at kepada mereka dan muliakanlah mereka, aamiin.
Beberapa hari ini, Abang agak rewel karena Zaki selalu tidur di kamarnya. Ah, Nak. Andai kalian tahu, masa-masa kebersamaan ini akan kalian rindukan suatu hari, ketika kalian besar nanti, pasti kalian tak ingin berpisah satu sama lain. Pasti kalian akan selalu ingin bermain bersama-sama.
Selagi kecil, rajutlah kenangan indah untuk bekal kalian membesar nanti.
Hmm, mengingat anak-anak memang akan selalu menyisakan tarikan senyum di bibir kita. Semoga kita dikaruniai anak-anak sholih, yang kelak akan menjadi penyambung amal ketika kita sudah tak lagi ada di dunia ini, aamiin.
Hari ini, tak ada masakan istimewa. Tapi belakangan ada pesanan beberapa kali. Nah, kita upload resep lemper saja, ya.
Bahan:
1 kg beras ketan, cuci bersih, rendam sepuluh menit atau sampai bisa dipatahkan, tiriskan.
Didihkan:
500 ml air
Santan RM 2, beli di mas (sepertinya dari sebutir kelapa, sebab santannya kentaaal banget).
1 sdt agak munjung garam
8 lembar daun salam
Setelah mendidih, masukkan beras ketan dan kecilkan api. Sesekali aduk biar tidak berkerak. Setelah santan terserap habis, angkat dan matikan api #haha, ya iyalah. Ga efektif banget nih kalimat :-)
Isi:
1,5 dada ayam utuh (beli yang dagingnya doang), kukus, suwir halus, sisihkan
Bumbu haluskan:
8 butir bawang merah
5 siung bawang putih
5 butir kemiri sangrai
1,5 sdm ketumbar sangrai
gula garam dan asam secukupnya. Intinya, rasanya tuh cenderung manis asem. Tapi asinnya harus pas, ya.
Caranya:
Tumis bumbu halus, tambahkan daun jeruk dan salam, masak sampai wangi
Masukkan ayam, aduk rata
Masukkan santan, aduk terus sampai santan habis dan isi kering. Eits, tapi jangan sampai gosong ya.
Sisihkan.
Sediakan daun yang cantik, bakar di atas api kecil sampai layu dan potong dengan ukuran sama, Di sini, seringgit daun cuma bisa dipakai untuk 10 biji lemper, hiks. Mahalnyaa... Di kampung mah, cukup metik ke kebun Ibu Tulung Agung atau Yang Mi di samping rumah Polowijen.
Finishing:
Bungkus dua telapak tangan dengan plastik
Ambil segenggam ketan pipihkan
Ambil ayam suwir secukupnya. Kata saya, ayam ini ga boleh terlalu sedikit, ntar ngga berasa. Tapi juga ga boleh kebanyakan, ntar eneg.
Lonjongkan dengan posisi isi ga boleh terlihat dari luar
Rapikan
Bungkus di daun seperti membungkus arem-arem *nah loh, susah ngejelasinnya :-)
Boleh disemat dengan lidi atau pakai stapler. Tapi untuk stapler harus hati-hati nih, jangan sampai jatuh ke ketan, ya.
Jadi deh... selamat mencoba :-)
Friday, 9 October 2015
Rindu dan Semangkuk Asinan
Rindu
Hari ini, aku belajar arti rindu
Rindu seorang hamba pada kesholihan masa lalu, saat ia dekat dengan Sang Maha Perindu
Hari ini, aku belajar tentang arti cinta
Cinta yang terjalin karena Sang Mahacinta
Yang menyatukan hati dua muslimah yang sebelumnya tak pernah berjumpa,
hingga dekat begitu rupa
Maka Allahku,
Kumohon, jagalah kami agar senantiasa berada di jalanMu
Jagalah kami agar senantiasa mencintai dan dicintaiMu
Agar kami tak tersiksa oleh rindu,
seperti halnya ia, nun jauh di sana
Dan panggillah ia kembali ke jalanMu,
agar rindu yang buncah di hatinya,
menemui muara indah
bersamaMu,
Aamiin
_____________________________________________________
Hiks, jadi sedih. Whatapps-an sama seorang sahabat membuat kami berdua menangis malam ini. Yang sabar ya sahabat... doaku bersamamu.
Oh iya, beberapa hari lalu, saya mendapat amanah untuk membereskan sekresek mangga menjadi asinan. Wahh, tantangan nih hihihi.
Hari minggu, seorang teman dari Jakarta bersama kawan-kawannya berkenan mampir ke rumah. Dan esok lusanya, Bunda Pipiet pun berkenan menginap di rumah. Maka proyek mangga pun tertunda.
Alhamdulillah semalam, setelah diajak jalan-jalan sama Pak Satria dan anak-anaknya, saya kuatkan hati untuk mengurus si mangga. Sudah malu banget sama yang nganter kemari, hehehe.
Maka beginilah resepnya, :-)

Sekresek mangga, cuci bersih, kupas, potong-potong.
Rebus bersama 400ml air: 185 gram cabe merah besar (sisa pesanan lontong sayur masa itu haha) yang sudah dicuci dan diblender halus, 350 gram gula pasir, 1,25 sdm garam halus.
Rebus sampai beberapa lama agar bau cabe mentahnya ilang.
Angkat, diamkan beberapa saat.
Kucuri dua buah jeruk nipis ukuran besar (jeruknya dipukul-pukul dulu agar airnya buanyak)
Saring dam masukkan ke dalam wadah.
Masukkan irisan mangga.
Diamkan sampai suhu ruang dan masukkan ke kulkas.
Alhamdulillah, pagi tadi dah siap untuk dimakan. Kata Mbak Artha dan Bu Tuti asinannya enak. Masya Allah, Alhamdulillah. Padahal awalnya ga pede bikinnya, hihihi.
Selamat mencobaaa <3
Rindu seorang hamba pada kesholihan masa lalu, saat ia dekat dengan Sang Maha Perindu
Hari ini, aku belajar tentang arti cinta
Cinta yang terjalin karena Sang Mahacinta
Yang menyatukan hati dua muslimah yang sebelumnya tak pernah berjumpa,
hingga dekat begitu rupa
Maka Allahku,
Kumohon, jagalah kami agar senantiasa berada di jalanMu
Jagalah kami agar senantiasa mencintai dan dicintaiMu
Agar kami tak tersiksa oleh rindu,
seperti halnya ia, nun jauh di sana
Dan panggillah ia kembali ke jalanMu,
agar rindu yang buncah di hatinya,
menemui muara indah
bersamaMu,
Aamiin
_____________________________________________________
Hiks, jadi sedih. Whatapps-an sama seorang sahabat membuat kami berdua menangis malam ini. Yang sabar ya sahabat... doaku bersamamu.
Oh iya, beberapa hari lalu, saya mendapat amanah untuk membereskan sekresek mangga menjadi asinan. Wahh, tantangan nih hihihi.
Hari minggu, seorang teman dari Jakarta bersama kawan-kawannya berkenan mampir ke rumah. Dan esok lusanya, Bunda Pipiet pun berkenan menginap di rumah. Maka proyek mangga pun tertunda.
Alhamdulillah semalam, setelah diajak jalan-jalan sama Pak Satria dan anak-anaknya, saya kuatkan hati untuk mengurus si mangga. Sudah malu banget sama yang nganter kemari, hehehe.
Maka beginilah resepnya, :-)

Sekresek mangga, cuci bersih, kupas, potong-potong.
Rebus bersama 400ml air: 185 gram cabe merah besar (sisa pesanan lontong sayur masa itu haha) yang sudah dicuci dan diblender halus, 350 gram gula pasir, 1,25 sdm garam halus.
Rebus sampai beberapa lama agar bau cabe mentahnya ilang.
Angkat, diamkan beberapa saat.
Kucuri dua buah jeruk nipis ukuran besar (jeruknya dipukul-pukul dulu agar airnya buanyak)
Saring dam masukkan ke dalam wadah.
Masukkan irisan mangga.
Diamkan sampai suhu ruang dan masukkan ke kulkas.
Alhamdulillah, pagi tadi dah siap untuk dimakan. Kata Mbak Artha dan Bu Tuti asinannya enak. Masya Allah, Alhamdulillah. Padahal awalnya ga pede bikinnya, hihihi.
Selamat mencobaaa <3
Wednesday, 26 August 2015
Lontong Balap Tanpa Lentho
Bertahun-tahun tinggal di Jawa Timur, tak berhasil membuat saya mengenal si lontong balap. Makan pertama kali malah di Johor, di rumah guru kami hehehe *nutup muka
Berbekal ingatan petuah resep Sang Guru plus nyari info sana-sini di blog siapa saja, akhirnya dibuatlah lontong balap tanpa lentho (daripada harus mengenalkan apa itu lentho ke anak-anak yang belum tentu disukai, mending diskip aja hehe).
Berikut resepnya:
Bahan:
Lontong (beli di pasar awam yang segede lengan Thariq :-D ) dua buah saja. Potong-potong, sisihkan.
Tahu putih delapan kotak, goreng sedikit kering, potong-potong, sisihkan.
Tauge (beli seringgit dapat seplastik sedang), rebus sebentar dalam air mendidih, sisihkan.
Bawang goreng untuk taburan
Tulang kaki sapi (untuk mendapatkan kaldu yang sedap), rebus sebentar agar darah dan kotorannya hilang.
Bumbu halus:
10 butir bawang merah
5 butir bawang putih
dua ruas jahe
1sdm ketumbar sangrai
1/2 sdt merica bubuk
Caranya:
1. Rebus tulang kaki sapi (harusnya daging, tapi kami sedang diet daging hehe) lebih kurang selama satu jam dengan api kecil.
2. Tumis bumbu halus, tambahkan gula garam, masukkan ke dalam rebusan daging.
3. Tambahkan potongan daun bawang yang gemuk-gemuk (haha, istilah Jawanya godhong pre. Daun bawang ini berbeda dengan daun bawang a la Jawa yang kurus-kurus).
Petis:
Berhubung tidak ada petis madura yang sedap, akhirnya, setelah ingat ada kiriman petis rujak dari Ibu, dipakailah petis hitam ini.
Biar dapat citarasa yang pas, rebus setengah cangkir air dengan empat sendok petis hitam, sebutir gula merah imut asli Tulung Agung (boleh juga pakai gula merah biasa :-) Ini mah kebetulan dibawain gula merah kecil-kecil sama Ibu Tulung Agung), plus cabe rawit empat biji.
Cara penyajian:
Masukkan dua sendok sambal petis, tambahkan lontong, tahu, tauge, terakhir tuangkan kuah dan taburi bawang goreng.
Jangan lupa makannya pake kerupuk yaaa... Oh iya, pas makan kuahnya diaduk biar petisnya nyampur.
Selamat mencobaaa :-)
Berbekal ingatan petuah resep Sang Guru plus nyari info sana-sini di blog siapa saja, akhirnya dibuatlah lontong balap tanpa lentho (daripada harus mengenalkan apa itu lentho ke anak-anak yang belum tentu disukai, mending diskip aja hehe).
Berikut resepnya:
Bahan:
Lontong (beli di pasar awam yang segede lengan Thariq :-D ) dua buah saja. Potong-potong, sisihkan.
Tahu putih delapan kotak, goreng sedikit kering, potong-potong, sisihkan.
Tauge (beli seringgit dapat seplastik sedang), rebus sebentar dalam air mendidih, sisihkan.
Bawang goreng untuk taburan
Tulang kaki sapi (untuk mendapatkan kaldu yang sedap), rebus sebentar agar darah dan kotorannya hilang.
Bumbu halus:
10 butir bawang merah
5 butir bawang putih
dua ruas jahe
1sdm ketumbar sangrai
1/2 sdt merica bubuk
Caranya:
1. Rebus tulang kaki sapi (harusnya daging, tapi kami sedang diet daging hehe) lebih kurang selama satu jam dengan api kecil.
2. Tumis bumbu halus, tambahkan gula garam, masukkan ke dalam rebusan daging.
3. Tambahkan potongan daun bawang yang gemuk-gemuk (haha, istilah Jawanya godhong pre. Daun bawang ini berbeda dengan daun bawang a la Jawa yang kurus-kurus).
Petis:
Berhubung tidak ada petis madura yang sedap, akhirnya, setelah ingat ada kiriman petis rujak dari Ibu, dipakailah petis hitam ini.
Biar dapat citarasa yang pas, rebus setengah cangkir air dengan empat sendok petis hitam, sebutir gula merah imut asli Tulung Agung (boleh juga pakai gula merah biasa :-) Ini mah kebetulan dibawain gula merah kecil-kecil sama Ibu Tulung Agung), plus cabe rawit empat biji.
Cara penyajian:
Masukkan dua sendok sambal petis, tambahkan lontong, tahu, tauge, terakhir tuangkan kuah dan taburi bawang goreng.
Jangan lupa makannya pake kerupuk yaaa... Oh iya, pas makan kuahnya diaduk biar petisnya nyampur.
Selamat mencobaaa :-)
Saturday, 8 August 2015
Gado-gado Kehidupan
Setiap pulang kampung, salah satu makanan yang kami rindu adalah gado-gado buatan Ibu. Rasanya khas, istiqomah. Ga berubah sama sekali dari pertama kali saya makan sampai hari ini.
Ibu punya resep jitu, yang belum pernah berhasil saya tiru dengan tepat. Padahal resep Ibu sangat akurat ukurannya, tapi mengapa pas saya coba membuatnya, selalu terasa ada yang kurang?
"Kacangnya beda, Ma," jawab Thariq ketika saya minta pendapatnya. "Mungkin Mama harus bawa kacang dari Indonesia."
Hahaha, ada-ada saja. Eh, tapi bisa jadi benar juga. Sebab saya selalu menggunakan kacang kisar (kacang tanah yang sudah digoreng dan dihancurkan) sementara Ibu membeli kacang mentah, menyangrainya lalu memblendernya sendiri.
Lebaran kemarin, beberapa hari menjelang kembalinya kami ke tanah rantau, Ibu memasak gado-gado di rumah Tidar karena kami akan kedatangan tamu keluarga besar Bude. Sengaja Ibu menginap di rumah kami, meninggalkan Bapak sendirian di Polowijen. Kasihan juga, Bapak. Tapi, gimana lagi? Tetamu sudah mendapatkan kabar bahwa Ibu akan memasak gado-gado untuk mereka. *hoho, maafkan Ar Bu. Coba ga pake woro-woro, pasti Ibu ga capek, kan? :-D
Singkat cerita, kami mempersiapkan pernak-pernik gado-gado ini dari malam sebelum hari H. Ibu menyangrai kacang, aku mengupas dan memotong wortel, bawang merah, bawang putih dan beberapa bumbu. Biar besok tinggal masak.
Kata Ibu, saking ribetnya membuat gado-gado, kalau ada arisan, Ibu selalu mengerjakannya sehari semalam. Hiks, sedihnya ga ada yang bantu. Coba Ar dekat, ya, Bu.
Baiklah, ini resep gado-gado Ibu yang maknyus itu, :-)
1 kg kacang, disangrai, didinginkan, diblender dua kali. Dry meal dan blender basah dengan air agar hasilnya haluuuus. Sisihkan.
Bumbu, diblender dan ditumis sampai harum:
1/4 kg cabe merah, buang isi
1 ons bawang putih
3 kencur seukuran jempol orang dewasa
garam dan gula secukupnya
Caranya:
1. Tumis bumbu sampai wangi dan tanak (harus benar-benar tanak --lebih dari sekadar mateng--)
2. Di panci lain, masak kacang blender yang sudah dicampur air
3. Tambahkan bumbu, aduk rata
4. Masukkan gula merah (250gram) dan gula putih (200gram), aduk rata
5. Tambahkan santan dari satu butir kelapa, aduk rata.
6. Tambahkan garam dan segenggam bawang goreng.
7. Angkat, siramkan ke bahan gado-gado
Apa saja bahannya?
1. Tempe tahu goreng yang kemudian dipotong kotak agak kecil
2. Wortel, kacang panjang dan kecambah yang direbus sebentar.
3. Telor rebus
4. Lontong
5. Kentang rebus
6. Daun salad atau sla yang ujung keriting.
Pelengkap:
Sambel tomat: rebus tomat, cabe dan satu siung bawang putih, ulek halus, tambahkan garam dan gula.
Kerupuk tahu atau emping jika suka.
Selamat mencobaaa <3
Ibu punya resep jitu, yang belum pernah berhasil saya tiru dengan tepat. Padahal resep Ibu sangat akurat ukurannya, tapi mengapa pas saya coba membuatnya, selalu terasa ada yang kurang?
"Kacangnya beda, Ma," jawab Thariq ketika saya minta pendapatnya. "Mungkin Mama harus bawa kacang dari Indonesia."
Hahaha, ada-ada saja. Eh, tapi bisa jadi benar juga. Sebab saya selalu menggunakan kacang kisar (kacang tanah yang sudah digoreng dan dihancurkan) sementara Ibu membeli kacang mentah, menyangrainya lalu memblendernya sendiri.
Lebaran kemarin, beberapa hari menjelang kembalinya kami ke tanah rantau, Ibu memasak gado-gado di rumah Tidar karena kami akan kedatangan tamu keluarga besar Bude. Sengaja Ibu menginap di rumah kami, meninggalkan Bapak sendirian di Polowijen. Kasihan juga, Bapak. Tapi, gimana lagi? Tetamu sudah mendapatkan kabar bahwa Ibu akan memasak gado-gado untuk mereka. *hoho, maafkan Ar Bu. Coba ga pake woro-woro, pasti Ibu ga capek, kan? :-D
Singkat cerita, kami mempersiapkan pernak-pernik gado-gado ini dari malam sebelum hari H. Ibu menyangrai kacang, aku mengupas dan memotong wortel, bawang merah, bawang putih dan beberapa bumbu. Biar besok tinggal masak.
Kata Ibu, saking ribetnya membuat gado-gado, kalau ada arisan, Ibu selalu mengerjakannya sehari semalam. Hiks, sedihnya ga ada yang bantu. Coba Ar dekat, ya, Bu.
Baiklah, ini resep gado-gado Ibu yang maknyus itu, :-)
1 kg kacang, disangrai, didinginkan, diblender dua kali. Dry meal dan blender basah dengan air agar hasilnya haluuuus. Sisihkan.
Bumbu, diblender dan ditumis sampai harum:
1/4 kg cabe merah, buang isi
1 ons bawang putih
3 kencur seukuran jempol orang dewasa
garam dan gula secukupnya
Caranya:
1. Tumis bumbu sampai wangi dan tanak (harus benar-benar tanak --lebih dari sekadar mateng--)
2. Di panci lain, masak kacang blender yang sudah dicampur air
3. Tambahkan bumbu, aduk rata
4. Masukkan gula merah (250gram) dan gula putih (200gram), aduk rata
5. Tambahkan santan dari satu butir kelapa, aduk rata.
6. Tambahkan garam dan segenggam bawang goreng.
7. Angkat, siramkan ke bahan gado-gado
Apa saja bahannya?
1. Tempe tahu goreng yang kemudian dipotong kotak agak kecil
2. Wortel, kacang panjang dan kecambah yang direbus sebentar.
3. Telor rebus
4. Lontong
5. Kentang rebus
6. Daun salad atau sla yang ujung keriting.
Pelengkap:
Sambel tomat: rebus tomat, cabe dan satu siung bawang putih, ulek halus, tambahkan garam dan gula.
Kerupuk tahu atau emping jika suka.
Selamat mencobaaa <3
Subscribe to:
Posts (Atom)


