Semalam, kami pesta yogurt. Bagaimana tidak disebut pesta, jika yogurt yang biasanya menjadi sajian istimewa itu bisa kami nikmati sesuka hati. Yogurt yang saya campur cincangan stroberi ini begitu lembut dan nikmat. Pas manisnya. Pas asemnya. Pas segernya. Hmm, tak terbayangkan, deh! Seriuuuss! Yogurt di kedai mah, lewaaattt...
Ya, semua berkat ilmu baru yang ditularkan oleh Mbak Dhini, sahabat cantik sholihah saya. Jadi cerita lengkapnya begini.
Hari itu, minggu lalu kalau tidak salah, Ibu-ibu istri dosen Indonesia yang bekerja di UTM ini, mengadakan latihan bareng membuat getuk. Benar, makanan berbahan dasar singkong itu sedang naik daun. Semua menyukai getuk buatan Mbak Artha. Singkat cerita, disepakatilah latbar getuk.
Sehari sebelumnya, Mbak Dhini menawarkan starter yogurt via WA. Membuat yogurt sendiri? Whuaaa, tidak pernah terbayang. Apalagi mengingat kami mau back for good. Kebayang rasa yogurt di minimarket dekat rumah yang terlalu cair, yang rasanya kurang pas. Dan yang paling mengerikan adalah bayangan harganya yang terasa muahal, hihihi. Maka, dengan bangga, saya pun menceritakan niatan ini pada Thariq.
"Wah, beneran, Ma? Mama buatlah yang banyak," tanggap Thariq. Saya pun mengulum senyum seraya membayangkan sewadah besar yogurt buatan sendiri.
Qodarullah, saat latbar, puteri cantik Mbak Dhini sakit. Akhirnya mendapat starter pun ditunda. Beberapa hari kemudian, saya mendapat kesempatan ke rumah beliau. Dan saya pun mendapatkan sewadah starter asli Jepang, yang bisa digunakan untuk membuat 2l yogurt.
Antusias, saya pun bertanya banyak hal.
Rupanya, starter itu adalah yogurt plain merk apa saja. Yang penting plain. Sayangnya, yogurt plain di Malaysia ini terlalu asam (begini kata Mbak Dhini. Saya sendiri belum pernah merasakannya, hihi. Biasa beli yang sudah ada rasa).
Nah, dalam sebuah wadah yang bersih, dua sendok makan yogurt plain ini dicampur dengan 2l fresh milk dan 6 sendok makan gula pasir. Aduk sampai rata lalu tutup dengan tissue dapur. Letakkan di atas kulkas. 12 jam kemudian, yogurt dah siap disantap.
"Ha? Sesederhana itukah, Mbak?" tanya saya.
"Iya, benar, Mbak Ar," jawab Mbak Dhini. "Kalau lihat di youtube memang susunya dihangatkan dulu. Tapi saya nggak begitu juga jadi. Yang penting susunya suhu ruang. Nanti kalau sudah jadi, ambil sebagian untuk dijadikan starter berikutnya."
"Masya Allah, mudahnya. Doakan saya berhasil, ya, Mbak," ujar saya sewaktu pamit. Sepanjang jalan, saya berniat untuk segera membuat yogurt ini dan menernaknya. Demikian Mbak Dhini memberi istilah.
Kok menernak, sih?
"Iya, kalau punya yogurt atau kefir, itu serasa punya ternak. Selama kita rajin memeliharanya, maka kita akan terus punya. Ini bisa dijadikan lahan bisnis, nih Mbak Ar," suara Mbak Dhini terngiang di telinga dan membuat saya tersenyum sendiri.
Dan benar saja, sewaktu saya mencoba membuatnya, memang sesimple itu. Alhamdulillah...
Jazakillah khayran katsira untuk Mbak Dhini... ilmunya barokah, insya Allah.
Inilah kenangan terindah dari Mbak untuk kami. Insya Allah jumpa lagi di Bandung, ya, Mbak <3 <3
Tuesday, 15 December 2015
Monday, 2 November 2015
Ayam Bakar Bumbu Padang
Tersenyum saya melihat sebuah iklan yang menyorot tentang cinta dan kebutuhan anak pada ayah mereka. Ah, soooo sweeeettt.
Ayah memang seringkali mencintai dalam diam. Kata adik lelaki saya, jika kita belum pulang ke rumah waktu kecil dulu, sebenarnya yang risau adalah Ayah. Ibu yang menelepon kita, tapi itu atas perintah Ayah. Dan benar saja. Waktu kemarin dia menginap di JB dua minggu, pas dia belum pulang-pulang *waktu itu ada event besar di Danga Bay*, Ayahnya Thariq pun sibuk.
"Ma, telepon Kholis."
"Nanti juga pulang, Yah. Dia kan sudah besar."
"Teleponlah, Ma. Jangan-jangan dia kehabisan bus. Biar nanti Ayah jemput."
Nah kaaaannn? Terbukti deh, ga pake lama, hehehe.
Begitulah. Dan jika mau diceritakan tentang kekhawatiran Bapak sewaktu saya gadis dulu, wah-wah, bisa jadi satu novel deh kayaknya. Hihihi...
Kembali ke Ayahnya anak-anak. Kadang, saya kesal kalau beliau sudah mulai menggoda anak-anak. Mengganggu Thariq, menggoda Zaki sampai Zaki marah-marah, mengangkat tinggi-tinggi Farid sampai teriak-teriak, menggelitik anak-anak yang sedang tidur, dan banyak lagi. Tapi sekarang saya sadar, mungkin Mas sedang mengukir kenangan untuk anak-anaknya. Mungkin, kenangan inilah yang akan mengikat kami kelak, saat mereka sudah dewasa.
Mungkin, suatu hari nanti, mereka akan melakukan hal yang sama pada cucu-cucu kami. Ahhh, jadi melow.
Bdw, tiga ekor ayam dara yang saya beli di pasar tani Ahad kemarin, sudah masak dan hampir habis. Semalam, sembari membuat kue sus untuk dijual, saya mengolahnya menjadi dua olahan. enam potong saya bumbu padang dan enam potong saya presto untuk nanti jadi ayam tulang lunak. Rencananya, semuanya akan saya bakar, ga digoreng seperti yang sudah-sudah.
Alhamdulillah, pohon kunyit makin lebat berdaun. Tiga lembar bisa dipakai untuk ayam bumbu padang.
Saya memakai resepnya Mba Endang di www.justtryandtaste.com untuk tulang lunak dan Sajian Sedap untuk ayam bakar bumbu padang.
Alhamdulillah semua suka.
Pagi tadi, saya tinggal menanak nasi dan membuat urap daun kol. Alhamdulillah :-)
Ayah memang seringkali mencintai dalam diam. Kata adik lelaki saya, jika kita belum pulang ke rumah waktu kecil dulu, sebenarnya yang risau adalah Ayah. Ibu yang menelepon kita, tapi itu atas perintah Ayah. Dan benar saja. Waktu kemarin dia menginap di JB dua minggu, pas dia belum pulang-pulang *waktu itu ada event besar di Danga Bay*, Ayahnya Thariq pun sibuk.
"Ma, telepon Kholis."
"Nanti juga pulang, Yah. Dia kan sudah besar."
"Teleponlah, Ma. Jangan-jangan dia kehabisan bus. Biar nanti Ayah jemput."
Nah kaaaannn? Terbukti deh, ga pake lama, hehehe.
Begitulah. Dan jika mau diceritakan tentang kekhawatiran Bapak sewaktu saya gadis dulu, wah-wah, bisa jadi satu novel deh kayaknya. Hihihi...
Kembali ke Ayahnya anak-anak. Kadang, saya kesal kalau beliau sudah mulai menggoda anak-anak. Mengganggu Thariq, menggoda Zaki sampai Zaki marah-marah, mengangkat tinggi-tinggi Farid sampai teriak-teriak, menggelitik anak-anak yang sedang tidur, dan banyak lagi. Tapi sekarang saya sadar, mungkin Mas sedang mengukir kenangan untuk anak-anaknya. Mungkin, kenangan inilah yang akan mengikat kami kelak, saat mereka sudah dewasa.
Mungkin, suatu hari nanti, mereka akan melakukan hal yang sama pada cucu-cucu kami. Ahhh, jadi melow.
Bdw, tiga ekor ayam dara yang saya beli di pasar tani Ahad kemarin, sudah masak dan hampir habis. Semalam, sembari membuat kue sus untuk dijual, saya mengolahnya menjadi dua olahan. enam potong saya bumbu padang dan enam potong saya presto untuk nanti jadi ayam tulang lunak. Rencananya, semuanya akan saya bakar, ga digoreng seperti yang sudah-sudah.
Alhamdulillah, pohon kunyit makin lebat berdaun. Tiga lembar bisa dipakai untuk ayam bumbu padang.
Saya memakai resepnya Mba Endang di www.justtryandtaste.com untuk tulang lunak dan Sajian Sedap untuk ayam bakar bumbu padang.
Alhamdulillah semua suka.
Pagi tadi, saya tinggal menanak nasi dan membuat urap daun kol. Alhamdulillah :-)
Sunday, 1 November 2015
Sayur Asem Jakarta
Sejak memutuskan untuk bergabung mengaji bersama adik-adik pekerja kilang, hari Ahad selalu menjadi hari yang sibuk. Bahkan malam minggu pun dihabiskan dengan membereskan semua pekerjaan seperti setrika, nyapu ngepel, membereskan rumah dan sebagainya agar semua pekerjaan bisa selesai sebelum tamu agung itu datang.
Terlebih jika ada pesanan kue dari Mak Jah di Ahad pagi. Wuah, berlipat deh kesibukan :-)
Setelah sholat subuh langsung buat vla, masak nasi, buat lauk untuk hari itu, masak sayur, isi vla, membantu Zaki menyiapkan diri ke sekolah lalu mengantar Zaki sekaligus mengantar kue.
Nah, Ahad pagi juga waktunya saya harus ke pasar tani Sri Pulai. Sebab di sanalah tempat dijual ayam kampung dengan harga murah. Betul! Murah banget. Sebelum mengenal Kak Haeriyah, penjualnya, seekor ayam kampung di pasar awam saya dapatkan antara RM 35-40. Di pasar tani, harga segitu bisa dapat dua ekor ayam besar-besar! Belum lagi ayam daranya. Di pasar awam seekor 25 di Kak Haeriyah cuma RM 9,7. Whuahhh, gimana ngga memperjuangkan harus ke sana coba?
Belum lagi sayurannnya. Di pasar tani, ada seorang Pak Cik sepuh yang jualan sayuran kampung seperti kemangi, kecombrang, chili kampung dan sebagainya. Saya langganan di sana. Alasannya, masih karena harga. Jika di Kipmart kita bayar seringgit seikat, di Pak Cik cuma 50 sen saja, hehehe *kekep dompet
Buah? Di pasar tani ini, buahnya beraneka macam. Pisangnya lebih manis dibandingkan di pasar awam. Pisangnya pun berbagai jenis, dari pisang berangan, kepok, bahkan pisang raja pun ada. Jambunya juga crunchy dan juicy. Kalau lagi musim, cempedaknya murah.
Nah, yang ngangenin adalah kue cucurnya. Sedap. Satu pack cuma RM 5. Bikin sendiri ga mungkin, susah, hehehe.
Kembali ke pasal ayam kampung, jika dulu saya sampai mengantri hampir sejam untuk dapat sekresek ayam yang sudah dipotong sesuai selera (kadang malah kehabisan), belakangan saya memilih untuk memesan sehari sebelumnya. Alhamdulillah, nama saya mudah melekat di ingatan Kak Haeriyah dan suaminya. Jadi begitu kepala saya nongol, orangnya langsung nyebut, "Bang, Aryyyy!" hahahaha...
Ahad kemarin, saya punya waktu agak banyak karena ada cuti peristiwa akibat JDT, tim bola Johor Bahru, menang piala AFC. Hmmm, senangnyaaa. Saya bisa belanja dengan tenang :-D
Sepanjang jalan menuju pasar tani, saya memikirkan menu untuk adik-adik kilang itu. Alhamdulillah ketemu! Sayur asem, goreng asin, rempeyek udang dan sambel terasi. Kuenya, sus aja. Saya sengaja membuat agak banyak, agar ada sisa untuk snack adik-adik sholihah itu.
Pulang dari pasar langsung eksekusi. Bersihkan ayam dan cuci udang, masukkan freezer. Masak sayur, goreng terasi, bikin sambel, goreng udang, goreng asin. Bikin teh. Setelah sayur masak, dua orang dari Cempaka, Detty dan Lisda datang. Saya pun meminta izin melanjutkan pekerjaan. Tepat setelah semua selesai, tiga orang dari Taman Rinting datang. Dan ketika mengaji sudah dimulai, yang dari Cendana pun berdatangan. Alhamdulillah.
Siang itu, kami makan dengan nikmat. Alhamdulillah, semua tandas. Termasuk sus di wadahnya :-)
Berikut ini resep sayur asam:
2 liter air, didihkan di panci stainless steel
1 buah labu siam ukuran besar atau 2 buah ukuran sedang, potong kotak-kotak
15 lenjer kacang panjang, potong pendek
setengah bagian kubis, potong-potong
1 ikat daun melinjo, jika ada (kemarin saya lupa beli *nyengir* padahal udah diingat-ingat)
Bumbu haluskan:
2 buah cabe merah besar, buang biji
10 butir bawang merah kecil
3 siung bawang putih
4 buah kemiri sangrai
2 sdm terasi
1 sdt asam jawa adabi
100gram gula jawa, jika kurang manis tambahkan gula pasir
garam secukupnya
Caranya:
1. Masukkan beberapa lembar salam (jika ada salam merah, lebih harum) dan lengkuas ke dalam rebusan air mendidih
2. Masukkan kacang panjang dan labu lalu tambahkan kubis dan daun bawang, tambahkan gula merah, garam dan gula pasir
3. Di wajan lain, masak blenderan bumbu sampai harum, baru masukkan ke dalam panci
4. Cicip rasanya. Sayur asam harus pas asam, manis dan asinnya. Kalau kata saya mah, sayur yang enak itu yang cenderung manis asem :-)
Sambel terasi:
10 buah cabe rawit merah
1 buah cabe merah besar
2 buah bawang merah besar
1,5 tomat ukuran kecil, potong. Satu tomat dibagi empat.
2 butir bawang putih
Semua bahan digoreng sampai layu, blender, goreng kembali lalu tambahkan 3/4 sdt garam
dan 5 sdt gula. Goreng sampai harum.
Sebenarnya, sambel itu enaknya diulek. Tapi... waktunya ga cukuuuuppp, ahaha.
Terima kasih sudah mampir dan selamat mencoba yaaa...
Terlebih jika ada pesanan kue dari Mak Jah di Ahad pagi. Wuah, berlipat deh kesibukan :-)
Setelah sholat subuh langsung buat vla, masak nasi, buat lauk untuk hari itu, masak sayur, isi vla, membantu Zaki menyiapkan diri ke sekolah lalu mengantar Zaki sekaligus mengantar kue.
Nah, Ahad pagi juga waktunya saya harus ke pasar tani Sri Pulai. Sebab di sanalah tempat dijual ayam kampung dengan harga murah. Betul! Murah banget. Sebelum mengenal Kak Haeriyah, penjualnya, seekor ayam kampung di pasar awam saya dapatkan antara RM 35-40. Di pasar tani, harga segitu bisa dapat dua ekor ayam besar-besar! Belum lagi ayam daranya. Di pasar awam seekor 25 di Kak Haeriyah cuma RM 9,7. Whuahhh, gimana ngga memperjuangkan harus ke sana coba?
Belum lagi sayurannnya. Di pasar tani, ada seorang Pak Cik sepuh yang jualan sayuran kampung seperti kemangi, kecombrang, chili kampung dan sebagainya. Saya langganan di sana. Alasannya, masih karena harga. Jika di Kipmart kita bayar seringgit seikat, di Pak Cik cuma 50 sen saja, hehehe *kekep dompet
Buah? Di pasar tani ini, buahnya beraneka macam. Pisangnya lebih manis dibandingkan di pasar awam. Pisangnya pun berbagai jenis, dari pisang berangan, kepok, bahkan pisang raja pun ada. Jambunya juga crunchy dan juicy. Kalau lagi musim, cempedaknya murah.
Nah, yang ngangenin adalah kue cucurnya. Sedap. Satu pack cuma RM 5. Bikin sendiri ga mungkin, susah, hehehe.
Kembali ke pasal ayam kampung, jika dulu saya sampai mengantri hampir sejam untuk dapat sekresek ayam yang sudah dipotong sesuai selera (kadang malah kehabisan), belakangan saya memilih untuk memesan sehari sebelumnya. Alhamdulillah, nama saya mudah melekat di ingatan Kak Haeriyah dan suaminya. Jadi begitu kepala saya nongol, orangnya langsung nyebut, "Bang, Aryyyy!" hahahaha...
Ahad kemarin, saya punya waktu agak banyak karena ada cuti peristiwa akibat JDT, tim bola Johor Bahru, menang piala AFC. Hmmm, senangnyaaa. Saya bisa belanja dengan tenang :-D
Sepanjang jalan menuju pasar tani, saya memikirkan menu untuk adik-adik kilang itu. Alhamdulillah ketemu! Sayur asem, goreng asin, rempeyek udang dan sambel terasi. Kuenya, sus aja. Saya sengaja membuat agak banyak, agar ada sisa untuk snack adik-adik sholihah itu.
Pulang dari pasar langsung eksekusi. Bersihkan ayam dan cuci udang, masukkan freezer. Masak sayur, goreng terasi, bikin sambel, goreng udang, goreng asin. Bikin teh. Setelah sayur masak, dua orang dari Cempaka, Detty dan Lisda datang. Saya pun meminta izin melanjutkan pekerjaan. Tepat setelah semua selesai, tiga orang dari Taman Rinting datang. Dan ketika mengaji sudah dimulai, yang dari Cendana pun berdatangan. Alhamdulillah.
Siang itu, kami makan dengan nikmat. Alhamdulillah, semua tandas. Termasuk sus di wadahnya :-)
Berikut ini resep sayur asam:
2 liter air, didihkan di panci stainless steel
1 buah labu siam ukuran besar atau 2 buah ukuran sedang, potong kotak-kotak
15 lenjer kacang panjang, potong pendek
setengah bagian kubis, potong-potong
1 ikat daun melinjo, jika ada (kemarin saya lupa beli *nyengir* padahal udah diingat-ingat)
Bumbu haluskan:
2 buah cabe merah besar, buang biji
10 butir bawang merah kecil
3 siung bawang putih
4 buah kemiri sangrai
2 sdm terasi
1 sdt asam jawa adabi
100gram gula jawa, jika kurang manis tambahkan gula pasir
garam secukupnya
Caranya:
1. Masukkan beberapa lembar salam (jika ada salam merah, lebih harum) dan lengkuas ke dalam rebusan air mendidih
2. Masukkan kacang panjang dan labu lalu tambahkan kubis dan daun bawang, tambahkan gula merah, garam dan gula pasir
3. Di wajan lain, masak blenderan bumbu sampai harum, baru masukkan ke dalam panci
4. Cicip rasanya. Sayur asam harus pas asam, manis dan asinnya. Kalau kata saya mah, sayur yang enak itu yang cenderung manis asem :-)
Sambel terasi:
10 buah cabe rawit merah
1 buah cabe merah besar
2 buah bawang merah besar
1,5 tomat ukuran kecil, potong. Satu tomat dibagi empat.
2 butir bawang putih
Semua bahan digoreng sampai layu, blender, goreng kembali lalu tambahkan 3/4 sdt garam
dan 5 sdt gula. Goreng sampai harum.
Sebenarnya, sambel itu enaknya diulek. Tapi... waktunya ga cukuuuuppp, ahaha.
Terima kasih sudah mampir dan selamat mencoba yaaa...
Thursday, 15 October 2015
Risoles Diabetik
Catatan Selasa, 14 Oktober 2015
Siang yang terik. Sudah beberapa bulan ini, JB terasa panas. Ditambah jerebu yang terkadang pekat, membuat kami memilih untuk mengurung anak-anak di rumah. Seperti hari ini, saya memutuskan untuk belanja bahan makan siang sendiri. Saya tinggalkan Thariq dan Farid di rumah, sementara Zaki sekolah.
Cepat saja. Setelah mengambil dua papan tempe, sekotak sayur organik, satu pak ikan makarel segar dan dua buah pepaya california, saya pulang. Di perjalanan, Bob, putera kedua Mak Jah menelepon. Karena lampu lalu lintas sedang merah, saya pun mengangkatnya.
Ia memesan sus 30 pcs dan pie sayur. Hah? Pie sayur? Belum terbayang bentuknya. Maka saya katakan saja bahwa saya tak pernah membuatnya.
Beberapa menit kemudian, saat saya sudah sampai di halaman rumah, ia menelepon lagi. Kali ini, ia memesan risoles, 40 biji dengan syarat khusus.
"Jangan manis, ya, Kak. Dia orang tak makan manis. Jangan guna ayam. Carrot sama kentang dengan sayur lain, jer."
"Sayur lain apa, ya, Bang?" saya sedikit ngehang. Belum kebayang :-)
"Apa-apa saja lah, Kak. Kacang pies, ker?"
Tanpa berpikir lagi saya pun menyanggupinya. Setelah telepon ditutup barulah otak mulai berpikir. Hihi, telat, Jeng.
Proses berpikir terus berlanjut bahkan selama memasak makan siang. Hingga sesaat setelah selesai memasak, saya pun browsing, mencari pie sayur.
Alhamdulillah dapat dari web Sajian Sedap. Risoles sayur tak nak manis pun terbayang indah di mata*lebay
Singkat cerita, malam harinya saya ke Jusco lagi untuk membeli sayuran beku. Dan keesokannya, resep dalam bayangan itu pun saya eksekusi.
Nah, inilah resepnya, :-)
Bahan isi:
1 kg sayuran beku (wortel, jagung dan kacang kapri kupas), biarkan di suhu ruang sampai tak beku lagi, rebus sebentar sampai kacangnya lembut.
Seledri beberapa lembar
Bumbu:
tiga sendok minyak bunga matahari
3 minipak butter *merk anchor
1 buah bawang bombay ukuran besar cincang halus
1/2 sdm merica
1/4 sdm pala
400ml susu segar *saya memakai susu bubuk yang saya cairkan
2 sdt garam
5sdm terigu
Caranya:
1. Panaskan minyak dan butter sampai butter cair
2. Masukkan bawang bombay, masak sampai harum
3. Tambahkan gula, garam, merica dan pala, lanjutkan menumis sampai harum
4. Tambahkan terigu, aduk rata
5. Tambahkan susu, aduk sampai licin
6. Tambahkan sayuran beku dan seledri
7. Aduk sampai meletup-letup, angkat, dinginkan.
Masukkan ke dalam kulit risoles, gulung, celup ke putih telur dan gulingkan ke bread crumbs. Goreng sampai kecokelatan.
Kata Thariq, rasanya seperti biasa *nyengir
Kata salah satu staf Mak Jah, rasanya sedap.
Kata Mas Satriaku, rasanya sedaaaap. Lebih sedap dari risoles yang biasanya. Beliau sampai habis tujuh *nyengir lagi
Oh iya, resep kulit ada di blog ini juga yaaa. Tepatnya di resep Risoles Rogout Ayam. Selamat mencoba :-)
Siang yang terik. Sudah beberapa bulan ini, JB terasa panas. Ditambah jerebu yang terkadang pekat, membuat kami memilih untuk mengurung anak-anak di rumah. Seperti hari ini, saya memutuskan untuk belanja bahan makan siang sendiri. Saya tinggalkan Thariq dan Farid di rumah, sementara Zaki sekolah.
Cepat saja. Setelah mengambil dua papan tempe, sekotak sayur organik, satu pak ikan makarel segar dan dua buah pepaya california, saya pulang. Di perjalanan, Bob, putera kedua Mak Jah menelepon. Karena lampu lalu lintas sedang merah, saya pun mengangkatnya.
Ia memesan sus 30 pcs dan pie sayur. Hah? Pie sayur? Belum terbayang bentuknya. Maka saya katakan saja bahwa saya tak pernah membuatnya.
Beberapa menit kemudian, saat saya sudah sampai di halaman rumah, ia menelepon lagi. Kali ini, ia memesan risoles, 40 biji dengan syarat khusus.
"Jangan manis, ya, Kak. Dia orang tak makan manis. Jangan guna ayam. Carrot sama kentang dengan sayur lain, jer."
"Sayur lain apa, ya, Bang?" saya sedikit ngehang. Belum kebayang :-)
"Apa-apa saja lah, Kak. Kacang pies, ker?"
Tanpa berpikir lagi saya pun menyanggupinya. Setelah telepon ditutup barulah otak mulai berpikir. Hihi, telat, Jeng.
Proses berpikir terus berlanjut bahkan selama memasak makan siang. Hingga sesaat setelah selesai memasak, saya pun browsing, mencari pie sayur.
Alhamdulillah dapat dari web Sajian Sedap. Risoles sayur tak nak manis pun terbayang indah di mata*lebay
Singkat cerita, malam harinya saya ke Jusco lagi untuk membeli sayuran beku. Dan keesokannya, resep dalam bayangan itu pun saya eksekusi.
Nah, inilah resepnya, :-)
Bahan isi:
1 kg sayuran beku (wortel, jagung dan kacang kapri kupas), biarkan di suhu ruang sampai tak beku lagi, rebus sebentar sampai kacangnya lembut.
Seledri beberapa lembar
Bumbu:
tiga sendok minyak bunga matahari
3 minipak butter *merk anchor
1 buah bawang bombay ukuran besar cincang halus
1/2 sdm merica
1/4 sdm pala
400ml susu segar *saya memakai susu bubuk yang saya cairkan
2 sdt garam
5sdm terigu
Caranya:
1. Panaskan minyak dan butter sampai butter cair
2. Masukkan bawang bombay, masak sampai harum
3. Tambahkan gula, garam, merica dan pala, lanjutkan menumis sampai harum
4. Tambahkan terigu, aduk rata
5. Tambahkan susu, aduk sampai licin
6. Tambahkan sayuran beku dan seledri
7. Aduk sampai meletup-letup, angkat, dinginkan.
Masukkan ke dalam kulit risoles, gulung, celup ke putih telur dan gulingkan ke bread crumbs. Goreng sampai kecokelatan.
Kata Thariq, rasanya seperti biasa *nyengir
Kata salah satu staf Mak Jah, rasanya sedap.
Kata Mas Satriaku, rasanya sedaaaap. Lebih sedap dari risoles yang biasanya. Beliau sampai habis tujuh *nyengir lagi
Oh iya, resep kulit ada di blog ini juga yaaa. Tepatnya di resep Risoles Rogout Ayam. Selamat mencoba :-)
Monday, 12 October 2015
Ia Bermuka Masam
'Abasa
Ramadhan kemarin, bocah empat tahun itu ikut mendengarkan murottal Syeikh Mishary Rashid yang selalu disetel Mamanya di Ipad. Dan beberapa minggu berikutnya, tepat saat ia berulang tahun keempat, ia menunjukkan hafalannya. Di suatu siang, di mobil, setelah mengantar sang Abang.
Mama terkejut.
"Masya Allah, Farid hafal 'Abasa, Nak?"
Farid, "Iya, Ma. Farid pandai mengaji."
Masya Allah, Mama terharu. Sekali lagi disuruhnya si anak memuroja'ah hafalannya dan ia berusaha membetulkan yang kurang betul.
Cara pengucapannya memang belum sempurna. Farid belum bisa menyebut R dengan jelas. Tapi insya Allah, yang dilafalkannya sudah benar. Runut. Sekaligus mengikuti cara Syeikh favorit anak-anak itu membaca.
Sesampai di rumah, Mama merekamnya.
Dan semalam, Mama memintanya untuk muroja'ah. Maka benarlah. Memberi ilmu pada anak-anak seperti menulis di batu, sedangkan memberi ilmu pada orang tua seperti menulis di air. Beda dengan Mama yang harus beberapa kali dibenarkan atas hafalan yang sudah dicapai di masa lalu, Farid tidak demikian. Ia lancar dan tidak mudah lupa. Allahu Akbar.
Terima kasih, Allah. Jagalah hafalanku dan hafalan anak-anakku, aamiin.
-------------------
Resep kali ini, adalah tentang sepaket pesanan adik-adik PPI. Mereka memesan lontong sayur lengkap, untuk memperingati Hari Raya Iedul Adha. Alhamdulillah, dengan budget yang mereka sediakan, Dear Cafe menyuguhkan lontong, sayur lodeh labu kubis tahu pong kacang panjang dan daging, kerupuk bunga, balado telor dan martabak telor. Alhamdulillah prosesnya lancar, tak menyulitkan.
Berikut resep sayur lodehnya:
Bumbu halus:
Bawang merah
Bawang putih
Cabe merah besar
Laos
Kemiri
Ebi sangrai yang sudah dihaluskan dengan blender
Caranya:
Tumis bumbu sampai wangi, tambahkan daun jeruk dan daun salam, lanjutkan menumis sampai makin wangi.
Di panci terpisah sudah direbus berbagai sayur sampai setengah lunak.
Masukkan tumisan bumbu dalam panci sayur, aduk-aduk, tambahkan gula garam dan merica, biarkan meresap
Masukkan santan pekat sampai kuah lontongnya terlihat pekat oleh santan
Tambahkan potongan daun bawang dan bawang goreng, matikan api
Hmmm... jadi laper :-P
Ramadhan kemarin, bocah empat tahun itu ikut mendengarkan murottal Syeikh Mishary Rashid yang selalu disetel Mamanya di Ipad. Dan beberapa minggu berikutnya, tepat saat ia berulang tahun keempat, ia menunjukkan hafalannya. Di suatu siang, di mobil, setelah mengantar sang Abang.
Mama terkejut.
"Masya Allah, Farid hafal 'Abasa, Nak?"
Farid, "Iya, Ma. Farid pandai mengaji."
Masya Allah, Mama terharu. Sekali lagi disuruhnya si anak memuroja'ah hafalannya dan ia berusaha membetulkan yang kurang betul.
Cara pengucapannya memang belum sempurna. Farid belum bisa menyebut R dengan jelas. Tapi insya Allah, yang dilafalkannya sudah benar. Runut. Sekaligus mengikuti cara Syeikh favorit anak-anak itu membaca.
Sesampai di rumah, Mama merekamnya.
Dan semalam, Mama memintanya untuk muroja'ah. Maka benarlah. Memberi ilmu pada anak-anak seperti menulis di batu, sedangkan memberi ilmu pada orang tua seperti menulis di air. Beda dengan Mama yang harus beberapa kali dibenarkan atas hafalan yang sudah dicapai di masa lalu, Farid tidak demikian. Ia lancar dan tidak mudah lupa. Allahu Akbar.
Terima kasih, Allah. Jagalah hafalanku dan hafalan anak-anakku, aamiin.
-------------------
Resep kali ini, adalah tentang sepaket pesanan adik-adik PPI. Mereka memesan lontong sayur lengkap, untuk memperingati Hari Raya Iedul Adha. Alhamdulillah, dengan budget yang mereka sediakan, Dear Cafe menyuguhkan lontong, sayur lodeh labu kubis tahu pong kacang panjang dan daging, kerupuk bunga, balado telor dan martabak telor. Alhamdulillah prosesnya lancar, tak menyulitkan.
Berikut resep sayur lodehnya:
Bumbu halus:
Bawang merah
Bawang putih
Cabe merah besar
Laos
Kemiri
Ebi sangrai yang sudah dihaluskan dengan blender
Caranya:
Tumis bumbu sampai wangi, tambahkan daun jeruk dan daun salam, lanjutkan menumis sampai makin wangi.
Di panci terpisah sudah direbus berbagai sayur sampai setengah lunak.
Masukkan tumisan bumbu dalam panci sayur, aduk-aduk, tambahkan gula garam dan merica, biarkan meresap
Masukkan santan pekat sampai kuah lontongnya terlihat pekat oleh santan
Tambahkan potongan daun bawang dan bawang goreng, matikan api
Hmmm... jadi laper :-P
Kerajaan
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبَّاسٍ الْجُشَمِىِّ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ إِنَّ سُورَةً مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ وَهِىَ سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan pada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qotadah, dari ‘Abbas Al Jusyamiy, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ada suatu surat dari al qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat dan dapat memberi syafa’at bagi yang membacanya, sampai dia diampuni, yaitu: “Tabaarakalladzii biyadihil mulku… (surat Al Mulk)” (HR. Tirmidzi no. 2891, Abu Daud no. 1400, Ibnu Majah no. 3786, dan Ahmad 2/299).
Hampir pukul sebelas malam. Kulangkahkan kaki menuju kamar anak-anak dan kudapati keduanya sedang melafalkan Surah Al Mulk, yang sudah mereka hafal sejak awal tahun ini.
Masya Allah. Betapa haru hati ini. Allahku, jagalah mereka. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah, manusia yang paling Engkau cintai, berikanlah syafa'at kepada mereka dan muliakanlah mereka, aamiin.
Beberapa hari ini, Abang agak rewel karena Zaki selalu tidur di kamarnya. Ah, Nak. Andai kalian tahu, masa-masa kebersamaan ini akan kalian rindukan suatu hari, ketika kalian besar nanti, pasti kalian tak ingin berpisah satu sama lain. Pasti kalian akan selalu ingin bermain bersama-sama.
Selagi kecil, rajutlah kenangan indah untuk bekal kalian membesar nanti.
Hmm, mengingat anak-anak memang akan selalu menyisakan tarikan senyum di bibir kita. Semoga kita dikaruniai anak-anak sholih, yang kelak akan menjadi penyambung amal ketika kita sudah tak lagi ada di dunia ini, aamiin.
Hari ini, tak ada masakan istimewa. Tapi belakangan ada pesanan beberapa kali. Nah, kita upload resep lemper saja, ya.
Bahan:
Masya Allah. Betapa haru hati ini. Allahku, jagalah mereka. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah, manusia yang paling Engkau cintai, berikanlah syafa'at kepada mereka dan muliakanlah mereka, aamiin.
Beberapa hari ini, Abang agak rewel karena Zaki selalu tidur di kamarnya. Ah, Nak. Andai kalian tahu, masa-masa kebersamaan ini akan kalian rindukan suatu hari, ketika kalian besar nanti, pasti kalian tak ingin berpisah satu sama lain. Pasti kalian akan selalu ingin bermain bersama-sama.
Selagi kecil, rajutlah kenangan indah untuk bekal kalian membesar nanti.
Hmm, mengingat anak-anak memang akan selalu menyisakan tarikan senyum di bibir kita. Semoga kita dikaruniai anak-anak sholih, yang kelak akan menjadi penyambung amal ketika kita sudah tak lagi ada di dunia ini, aamiin.
Hari ini, tak ada masakan istimewa. Tapi belakangan ada pesanan beberapa kali. Nah, kita upload resep lemper saja, ya.
Bahan:
1 kg beras ketan, cuci bersih, rendam sepuluh menit atau sampai bisa dipatahkan, tiriskan.
Didihkan:
500 ml air
Santan RM 2, beli di mas (sepertinya dari sebutir kelapa, sebab santannya kentaaal banget).
1 sdt agak munjung garam
8 lembar daun salam
Setelah mendidih, masukkan beras ketan dan kecilkan api. Sesekali aduk biar tidak berkerak. Setelah santan terserap habis, angkat dan matikan api #haha, ya iyalah. Ga efektif banget nih kalimat :-)
Isi:
1,5 dada ayam utuh (beli yang dagingnya doang), kukus, suwir halus, sisihkan
Bumbu haluskan:
8 butir bawang merah
5 siung bawang putih
5 butir kemiri sangrai
1,5 sdm ketumbar sangrai
gula garam dan asam secukupnya. Intinya, rasanya tuh cenderung manis asem. Tapi asinnya harus pas, ya.
Caranya:
Tumis bumbu halus, tambahkan daun jeruk dan salam, masak sampai wangi
Masukkan ayam, aduk rata
Masukkan santan, aduk terus sampai santan habis dan isi kering. Eits, tapi jangan sampai gosong ya.
Sisihkan.
Sediakan daun yang cantik, bakar di atas api kecil sampai layu dan potong dengan ukuran sama, Di sini, seringgit daun cuma bisa dipakai untuk 10 biji lemper, hiks. Mahalnyaa... Di kampung mah, cukup metik ke kebun Ibu Tulung Agung atau Yang Mi di samping rumah Polowijen.
Finishing:
Bungkus dua telapak tangan dengan plastik
Ambil segenggam ketan pipihkan
Ambil ayam suwir secukupnya. Kata saya, ayam ini ga boleh terlalu sedikit, ntar ngga berasa. Tapi juga ga boleh kebanyakan, ntar eneg.
Lonjongkan dengan posisi isi ga boleh terlihat dari luar
Rapikan
Bungkus di daun seperti membungkus arem-arem *nah loh, susah ngejelasinnya :-)
Boleh disemat dengan lidi atau pakai stapler. Tapi untuk stapler harus hati-hati nih, jangan sampai jatuh ke ketan, ya.
Jadi deh... selamat mencoba :-)
Friday, 9 October 2015
Rindu dan Semangkuk Asinan
Rindu
Hari ini, aku belajar arti rindu
Rindu seorang hamba pada kesholihan masa lalu, saat ia dekat dengan Sang Maha Perindu
Hari ini, aku belajar tentang arti cinta
Cinta yang terjalin karena Sang Mahacinta
Yang menyatukan hati dua muslimah yang sebelumnya tak pernah berjumpa,
hingga dekat begitu rupa
Maka Allahku,
Kumohon, jagalah kami agar senantiasa berada di jalanMu
Jagalah kami agar senantiasa mencintai dan dicintaiMu
Agar kami tak tersiksa oleh rindu,
seperti halnya ia, nun jauh di sana
Dan panggillah ia kembali ke jalanMu,
agar rindu yang buncah di hatinya,
menemui muara indah
bersamaMu,
Aamiin
_____________________________________________________
Hiks, jadi sedih. Whatapps-an sama seorang sahabat membuat kami berdua menangis malam ini. Yang sabar ya sahabat... doaku bersamamu.
Oh iya, beberapa hari lalu, saya mendapat amanah untuk membereskan sekresek mangga menjadi asinan. Wahh, tantangan nih hihihi.
Hari minggu, seorang teman dari Jakarta bersama kawan-kawannya berkenan mampir ke rumah. Dan esok lusanya, Bunda Pipiet pun berkenan menginap di rumah. Maka proyek mangga pun tertunda.
Alhamdulillah semalam, setelah diajak jalan-jalan sama Pak Satria dan anak-anaknya, saya kuatkan hati untuk mengurus si mangga. Sudah malu banget sama yang nganter kemari, hehehe.
Maka beginilah resepnya, :-)

Sekresek mangga, cuci bersih, kupas, potong-potong.
Rebus bersama 400ml air: 185 gram cabe merah besar (sisa pesanan lontong sayur masa itu haha) yang sudah dicuci dan diblender halus, 350 gram gula pasir, 1,25 sdm garam halus.
Rebus sampai beberapa lama agar bau cabe mentahnya ilang.
Angkat, diamkan beberapa saat.
Kucuri dua buah jeruk nipis ukuran besar (jeruknya dipukul-pukul dulu agar airnya buanyak)
Saring dam masukkan ke dalam wadah.
Masukkan irisan mangga.
Diamkan sampai suhu ruang dan masukkan ke kulkas.
Alhamdulillah, pagi tadi dah siap untuk dimakan. Kata Mbak Artha dan Bu Tuti asinannya enak. Masya Allah, Alhamdulillah. Padahal awalnya ga pede bikinnya, hihihi.
Selamat mencobaaa <3
Rindu seorang hamba pada kesholihan masa lalu, saat ia dekat dengan Sang Maha Perindu
Hari ini, aku belajar tentang arti cinta
Cinta yang terjalin karena Sang Mahacinta
Yang menyatukan hati dua muslimah yang sebelumnya tak pernah berjumpa,
hingga dekat begitu rupa
Maka Allahku,
Kumohon, jagalah kami agar senantiasa berada di jalanMu
Jagalah kami agar senantiasa mencintai dan dicintaiMu
Agar kami tak tersiksa oleh rindu,
seperti halnya ia, nun jauh di sana
Dan panggillah ia kembali ke jalanMu,
agar rindu yang buncah di hatinya,
menemui muara indah
bersamaMu,
Aamiin
_____________________________________________________
Hiks, jadi sedih. Whatapps-an sama seorang sahabat membuat kami berdua menangis malam ini. Yang sabar ya sahabat... doaku bersamamu.
Oh iya, beberapa hari lalu, saya mendapat amanah untuk membereskan sekresek mangga menjadi asinan. Wahh, tantangan nih hihihi.
Hari minggu, seorang teman dari Jakarta bersama kawan-kawannya berkenan mampir ke rumah. Dan esok lusanya, Bunda Pipiet pun berkenan menginap di rumah. Maka proyek mangga pun tertunda.
Alhamdulillah semalam, setelah diajak jalan-jalan sama Pak Satria dan anak-anaknya, saya kuatkan hati untuk mengurus si mangga. Sudah malu banget sama yang nganter kemari, hehehe.
Maka beginilah resepnya, :-)

Sekresek mangga, cuci bersih, kupas, potong-potong.
Rebus bersama 400ml air: 185 gram cabe merah besar (sisa pesanan lontong sayur masa itu haha) yang sudah dicuci dan diblender halus, 350 gram gula pasir, 1,25 sdm garam halus.
Rebus sampai beberapa lama agar bau cabe mentahnya ilang.
Angkat, diamkan beberapa saat.
Kucuri dua buah jeruk nipis ukuran besar (jeruknya dipukul-pukul dulu agar airnya buanyak)
Saring dam masukkan ke dalam wadah.
Masukkan irisan mangga.
Diamkan sampai suhu ruang dan masukkan ke kulkas.
Alhamdulillah, pagi tadi dah siap untuk dimakan. Kata Mbak Artha dan Bu Tuti asinannya enak. Masya Allah, Alhamdulillah. Padahal awalnya ga pede bikinnya, hihihi.
Selamat mencobaaa <3
Subscribe to:
Posts (Atom)

