Friday, 6 March 2020

Lagu Lama dan Rencana Nasi Kerabu

Bagiku yang melow, mendengar lagu lama saja membuat air mata berurai. lagu-lagu Vina Panduwinata mengingatkanku pada Almarhum Bulik yang mirip si burung camar. Lek Roh, demikian kami memanggilnya, adalah adik perempuan Bapak satu-satunya. Al Fatihah 😢😢. Bulik sangat pemurah padaku dan Rikha. Tak jarang beliau mengajak kami jalan-jalan ke kota atau membawakan kami oleh-oleh yang kami suka. Aku pernah diberi hadiah kotak pensil mewah. Beranjak remaja gantian aku dan Rikha yang sering menginap di rumah Bulik di Bululawang. Hidup a la orang desa kata Lek Roh. Mandi di sungai, mencari selada air di umbul, atau jalan malam-malam sekadar mencari pangsit. Rindunya. Semoga Allah tempatkan Almarhumah di tempat terbaik di sisiNya. Diampunkan dosanya dan dilimpahi kasih sayangNya. Aamiin.

Saat Chrisye menyanyikan lagunya di Utube Asusku, ingatan melayang pada masa-masa awal aku merantau. Menjadi trainer kala itu, aku seringkali ke lapangan. Melatih maupun ikut pelatihan. Lagu Chrisye sangat membekas di hati saat Pelatihan Pelatih di Tasikmalaya. Hari itu hampir seluruh pelatih selindo berkumpul di sebuah hotel di Tasik, mengikuti ToT.
Pelatih LAPENKOP adalah orang-orang yang menyenangkan. Hidup begitu berwarna bersama mereka. Setiap waktu kami isi dengan kegiatan-kegiatan yang menimbulkan tawa. Aku yang introvert digembleng menjadi seorang yang terbuka di sana. Diajarkan untuk mudah bergaul dengan siapa saja. Diajari tampil di depan umum: tak hanya melatih tetapi juga menyanyi dan menari poco-poco langsung oleh kawan-kawan dari Manado. MasyaAllah.
Bagi kami alumninya, LAPENKOP adalah rumah. Tempat anggotanya bagai keluarga. Hubungan yang terjalin di sana sudah bukan seperti kawan tetapi layaknya saudara. Bang Yuzri Almarhum, mantan Direkturnya, mengajarkan banyak ilmu dan wawasan pada kami. Semoga Allah mengampunkan beliau dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi Sang Maha Penyayang. Aamiin.

Ya Allah... Sungguh aku bersyukur padaMu atas setiap detik penuh warna yang kulewati. Tolong, berikan kehidupan yang lebih baik pada anak-anakku, agar mereka pun merasakan kebahagiaan dan pengalaman yang lebih indah daripada yang kudapatkan. Aamiin.

Dan malam ini kututup dengan lagu saat kami di JB dulu. Aweera Mojo dan Anuar Zein. Makin malam aku tidak mau melow-melow lagi. Kualihkan fikiran pada masakan kesukaan di sana. Di depan dapur ada bunga telang yang rajin mengembang. Dan aku ingin membuat nasi kerabu.

Semoga besok atau lusa bisa mewujudkannya.



Monday, 24 February 2020

Kepiting Saus Padang

Di rumah kami, seafood seringkali kuhindari sebab Thariq alergi. Ga tega aja kita makan sedap-sedap di depannya. Tapi karena Zaki sedang agak susah makan, hari ini aku pesan kepiting di Pak Ikan. Rencananya, Mama Bintang akan datang mengajari kami: aku dan Mama Byan untuk masak kepiting saus padang.

Instruksinya, setelah serah terima kepiting langsung masukkan freezer. Ok baiklah, tanpa kuapa-apakan kepiting dalam kresek langsung masuk ke freezer.Setelah Mama BB datang, kami pun mulai memasak. Mengupas bawang merah dan putih, membuang biji cabe dan mengupas jahe. Eh, bukan aku sih yang melakukan, tapi Mama BB hihihi.

Pokoknya aku tinggal blender bumbu yang sudah disiapkan.

Ini detailnya yaa.

15 butir bawang merah
1 bonggol besar bawang putih
7 cabe merah
3 cm jahe
1 butir bawang bombai besar, iris kasar
saus tiram
saus tomat
garam gula merica
minyak wijen

Pertama-tama, kepiting disikat sampai bersih lalu kukus segera sebelum dia sadar :D
Ngukusnya 10 menit saja. Selama ngukus kita siapkan bumbu: blender, tumis sampai harum,

Semua bumbu diblender. Tumis bersama irisan bawang bombay yang sudah ditumis lebih dulu sampai layu. Setelah wangi baru masukkan saus-saus dan garam gula merica. Masukkan kepiting, aduk2. Kocok telur dan masukkan ke wajan, aduk2 rata sampai matang. Beres dehhhh.

Selamat mencoba yaaa

Saturday, 15 February 2020

Bali Makarel dan Tempe

Berkali, dalam hidup aku mengalami hal-hal di luar bayanganku. Seperti yang terjadi hampir sepuluh hari lalu. Kami sedang berbahagia karena Bapak dah berangsur pulih. Ibu yang sejak awal berencana ke Bandung bersama Lek Sus dan Mbak Atik, sepupuku, melanjutkan niat beliau. 'Dibarengkan dengan niat Mas Satria pindahan saja," ujar Ibu kala itu.

Kholis, adikku pun berinisiatif membelikan beliau bertiga tiket kereta api. Siang itu kujemput ketiganya dan kuantar ke stasiun. Suasana begitu bahagia.

Esok paginya, kumulai rutinitas baru, mengantar makanan untuk Bapak dan Kholis. Semua berjalan lancar. Aku pulang beberapa jam kemudian setelah semua settle.

Di jalan, kunikmati alunan musik rancak. Sesekali aku ikut bersenandung. Semua masih bahagia hingga saat aku masuk ke dapur setelah mengantarkan si sulung ke depan menemui gojeknya, aku mendapati telepon dari Mas.

Suara Lek Sus terdengar di seberang.

"Ar, ojo kaget ya tak kabari. Ibu tibo. Bla... bla... bla... "

Aku berusaha mencerna setiap kalimat Bulikku tapi beberapa miss dari pendengaran dan otakku. Aku tahu, menghadapi situasi begini aku harus ridho. Allah sudah mengukur semuanya dan menjadikan ketentuan ini insyaAllah terbaik bagi kami.

Sepanjang hari itu, aku tak beranjak dari kasur di lantai atas. Telepon tetap di genggaman, wa... telepon... video call. Mbak Atik, Lek Sus, Mas. Bergantian.

Jika beberapa menit saja tak berbalas, air mata menitik.

Allah... Allah... kuatkan hamba, bisikku dengan linangan air mata.

Siangnya, "Ma... kata dokter bedah plastik, Ibu angkat jahitan Sabtu. Jadi Ibu pulang minggu depan ya, insya Allah Senin sampai. Mama urus Bapak di sana, Ayah bantu Ibu di sini."

Kabar kedua dari ayahnya anak-anak harus kuterima. Bismillah. Semoga Allah mudahkan.

Menjelang sore kukabari Kholis dan dia tenang menerimanya. Hingga beberapa hari berikutnya kami berkoordinasi. Bekerjasama. Kholis yang bersihkan rumah, aku yang menyediakan makanan. Alhamdulillah lancar.

Dan benar, tak ada sedikit pun keraguan bahwa skenarioNya adalah yang terindah. Mundurnya Ibu dan rombongan kembali ke Malang membawa kebahagiaan untuk beliau bertiga. Bapak pun saat diberitahu bahwa kepulangan Ibu ditunda, bisa menerima dengan tenang.

Alhamdulillah, tanpa sengaja Allah memberikan liburan pada tiga perempuan yang mungkin sebelum ini tak pernah berlibur.

Barakallahu fiikum Bu, Lek dan Mbak.

Dan selama beberapa hari menyediakan makanan, kulihat menu ini menjadi salah satu menu fav Bapak.

Bali tempe dan makarel

Bahan:
2 papan tempe dipotong dan digoreng. Jangan terlalu kering.
1 ekor makarel dipotong dan digoreng,

Bumbu:
10 butir bawang merah
5 siung bawang putih
3 buah cabe merah buang isi
1 ruas jahe kupas
1 buah tomat besar

Semua bumbu diblender, tumis dengan minyak kelapa sampa harum lalu tambahkan kecap manis. tambahkan air.Masukkan semua bahan dan aduk rata. Biarkan sampai air meresap dan setengah mengering.

Disajikam demgam bening gambas, duh segernya :)

Sunday, 18 August 2019

Iedul Adha dan Nasi Arab

Iedul Adha kali ini berlimpah daging, MasyaAllah. Dari jatah qurban kambing dan sapi, RT, hadiah dari Ibu supaya Bapak jauh-jauh dari olahan kambing, jatah panitia qurban Smanti, liqo'an, bahkan ada pemberian seorang kawan baik. Bu RT wilayah atas hehehe. Jika dihitung-hitung, lebih sepuluh kilo segala rupa daging itu duduk manis di kulkas.

Jadi ingat bertahun lalu di tanah rantau. Saat kami tak terlibat organisasi apa pun, saat pertama-tama menjadi keluarga pelajar, jatah daging Qur'ban sangatlah kami harapkan. Ya maklum, biasanya kami beli daging sapi beku yang murmer. Maka ketika dapat daging yang baru dipotong, itu akan menjadi berkah luar biasa bagi kami.

Seperti hari itu. Sekresek daging dan tulang diserahkan pada saya untuk dibagi 4 sama rata. Kalau membagi daging sih mudah ya. Tinggal memotong lalu menimbangnya, beres deh. Lha tulang? Tulang kaki alias sekengkel orang Jawa bilang, kudu dibagi empat juga. Subhanallah, syusyah sekali. Meski saya punya sebuah pisau khusus buat mecah-mecah tulang, tetap saja pengalaman itu tak akan terlupakan wkwkwkw. Aku pun jadi tahu, betapa berat pekerjaan seorang penjual daging di pasar yaa. Pendek cerita semua bagian sudah disampaikan ke yang berhak, Alhamdulillah ala kulli hal.

Nah, mumpung persediaan daging melimpah, mari kita mengolahnya sedikit demi sedikit sampai semuanya habis hehehe. Salah satu menu yang bisa dicoba adalah nasi mandhi. Pertama kali makan di rumah Bu Terry, saya langsung jatuh cinta pada rasanya. Ditambah pengalaman makan nasi mandhi asli di resto Arab di JB, yang lagi-lagi ditraktir oleh Bu Terry.
MasyaAllah... sedap sekali. Dengan aroma smoke alias sangit, masakan ini sama sekali tidak eneg. Dan ketika Bu Terry memberi saya buah tangan berupa paket nasi mandi lengkap, saya pun tak sabar untuk mencobanya.

Berikut resep nasi mandi a la chef Ammar yaa. Bumbu-bumbunya sudah tersedia instant. Saya sendiri belum pernah membuatnya sendiri. Tapi ini saya sertakan resep yang dikirimkan Bu Terry. Semoga bermanfaat :)

Bahan:
500 gram beras basmathi dicuci bersih, direndam 20-30 menit, lalu ditiriskan.

Dalam panci presto:
Tuang minyak zaitun agak banyak
Tumis 10-15 buah bawang putih utuh sampai keemasan
Tambahkan 1 buah bawang bombay yang sudah dipotong kecil, tumis sampai harum
Tambahkan 6-8 buah cabai hijau besar yang sudah dipotong dua, lanjutkan tumis sampai harum.

Masukkan 1,5 sdm rempah mandi, aduk rata sampai harum.

Masukkan daging atau tulang iga atau ayam atau ekor sapi ke dalam panci. Aduk-aduk sampai agak berubah warna, tambahkan air, 1 sdm garam dan sedikit safron lalu tutup rapat. dari bunyi desisan masak 30 atau 40 menit.Setelah uap air habis, buka dan tiriskan dagingnya. Bungkus aluminium foil lalu oven kira-kira 20 menit.

Nah, bagaimana masak nasinya?
Hampir sama sih, tapi kita menggunakan minyak samin bukan lagi zaitun.

Berikut resepnya ya.

Bahan dan cara membuat:
Di wajan, tuang minyak goreng ditambah 1 sdm minyak samin lalu tumis berurutan bawang putih sampai keemasan, bawang bombay sampai bening transparan lalu cabai hijau besar sampai harum. Masukkan 1 sdm rempah mandi aduk rata. Tunggu sampai benar-benar harum.

Di rice cooker, masukkan nasi dan air secukupnya. Tambahkan 2 sendok sayur ukuran besar sisa air rebusan daging. Tambahkan bumbu yang sudah ditumis, taburi 1 sdm garam. aduk rata, tutup dan masak sesuai prosedur. pada saat 5 menit menjelang masak, taburi safron pada beberapa bagian. Lanjutkan memasak sampai tanak. Buka, aduk perlahan agar nasi tidak patah-patah.

Nah, berikut resep pelengkapnya:
Salad sayur segar, dalam sebuah wadah besar masukkan:

1 buah Iceberg lettuce sobek2 kecil
1 buah bawang merah besar iris tipis
8 tomat cherry, boleh dipotong 2 atau utuhkan
5 lembar kubis ungu iris tipis2

campur sayuran dengan 2 sdm minyak zaitun, serbuk lada hitam secukupnya, perasan lemon (setengah saja), gula dan garam himalaya. Aduk rata, cicip rasa, siap dihidangkan.

Oh iyaa, satu lagi ya. Sambal Arab. Ini mah cuma cabe rawit, bawang putih sebiji dan tomat. Rebus lalu blender, tambahkan garam gula secukup rasa. Kalau aku ditambah daun cilantro alias daun ketumbar. Seger.

Selamat memasak dan makan yaaa...

Rempah nasi mandi ini bisa didapatkan di marketplace seharga 85 ribu sebungkusnya. Kata teman dan saudara yang pernah makan, nasi mandi resep dari Bu Terry ini sungguh sedap <3 




Tuesday, 5 September 2017

Arem-arem dan Kisah Cinta Kita

Kehidupan pernikahan kami terlewati di berbagai tempat. Dari 16 tahun lebih, belum dua tahun kami tinggal di kota kelahiranku. Beberapa hari setelah menikah hingga 5 tahun berikutnya, kami hidup di Bandung. Sama-sama kerja. Sama-sama berkarier. Lalu 8 tahun lebih sekian bulan selanjutnya, kami merantau ke negeri jiran.Baru akhir 2015 lalu kami kembali kemari.

Dan ketika kemarin, di perjalanan akan menjemput anak-anak pulang sekolah, lalu dia bertanya, "Sejak menikah, berapa kali kita berantem?"

Aku terhenyak. Terkejut. Takjub dengan pertanyaan lelaki super cuek di sampingku.

Kupandangi wajahnya lekat. Ada haru menyeruak. Ada geli. Juga rasa tak percaya. Ia yang biasa sibuk dengan pekerjaan dengan sadar mengajukan pertanyaan itu.

"Waahhh, ga keitung kali, Sayang!" Alih-alih mengeluarkan suara lembut manja, aku malah berteriak sambil tertawa.

Ia melirikku sebentar sebelum fokus pada jalanan padat di depan kami.

Ya. Rumah tangga mana yang bersih dari berantem. Aku yakin ga ada. Hanya mungkin intensitas dan kehebohan berantemnya yang berbeda. Dan kami... Awal-awal menikah dulu sering banget berantem begitu heboh hahaha.

Sekarang Alhamdulillah kami sudah sama-sama kalem. Rasa cinta di hati kami pun serasa terus bermekaran. #uhuk hihi

Alhamdulillah untuk semua nikmat ini.

Dan kemarin, aku harus kembali mengingat-ingat pelajaran mbuat arem-arem. Makanan ringan yang lumayan berat, yang dulu sering kubuat. Semasa kami di JB.

Berikut resepnya yaaa.

3 papan tempe, potong dadu setengah sentian, goreng, sisihkan.
500gram daging bagus, blender halus.

Haluskan bumbu:
Bawang merah
Bawang putih
Cabe merah
Laos

Tumis bumbu halus, tambahkan daun salam, gula garam. Cicip rasa, sisihkan.

Aron 1 kg beras dengan air yang agak banyak supaya menjadi nasi lembek. Tambahkan 2sdt garam, 1/2 kelapa yang diambil santannya. 2 batang serai.

Kukus 20 menit.

Masukkan sebagian nasi ke daun, tambahkan isian, gulung dalam daun. Kukus 30 menit.

Arem-arem ini sebagian besar kukirim ke TK Farid untuk makan sehat anak-abak, didampingi brownies hehehe. Alhamdulillah.

-------------
Untuk suamiku, makasih untuk semuanya. Doaku di nadimu.

Saturday, 1 July 2017

Nge-Lodho di Ngunut

Lebaran pertama tahun ini kami merayakannya di Ngunut, kota tempat Ibu Mertua tercinta tinggal. Tahun lalu, kami merayakannya di rumah sendiri di Tidar lalu dilanjutkan ke Polowijen, di rumahIbu Bapak tersayang.

Singkat cerita, kami bertolak ke barat pada hari Jumat, H-3 lebaran. Setelah membersihkan seluruh rumah dan menyiapkan dua jenis kue kering lebaran, kami berangkat sekira pukul 2 siang. Masih puasa, lah yaa... Jadi harus menyiapkan bekal berbuka. Alhamdulillah ada mie goreng sisa sahur dan nasi putih.

Alhamdulillah, perjalanan lancar. Saat hampir berbuka, kami mencoba mampir ke beberapa restoran terkenal di Blitar. Sayangnya semua fully booked. Akhirnya kami lanjutkan perjalanan sampai ke Ngunut dan berbuka di warung sate gule langganan.

Esoknya, aku diantar Ibu hunting ayam kampung. Selepas subuh, menyusuri jalanan Ngunut yang lengang, kami ke daerah sebelah barat. Di sepanjang jalan yang dituju, beberapa pedagang bersepeda menjajakan ayam mereka. Setelah melewati penawaran yang cukup alot, hihihi, kami berhasil membeli dua ekor ayam jago ukuran besar seharga seratus sepuluh ribu saja. Ayam tersebut harus kami bawa ke pasar yang jaraknya cukup jauh, untuk dipotongkan. Aduh, berat bookkk...

Sementara Ibu antri di tukang potong, saya belanja bumbu dan sayuran di pasar. Rencananya, ayam tersebut akan kami masak lodho. Masakan khas tulung agung. Dan saya diamanahi untuk memasaknya sampai siap santap. Untunglaahhhh saya membawa panci presto dari Malang, jadi nggak perlu lama-lama berkutat di dapur hehehehe.

Nah, inilah resep lodho ayam khas Tulung Agung:

1 ekor ayam kampung, bakar di atas arang. Kalau nggak ada, mungkin bisa dioven atau dipanggang di happy call kali ya, hehehe

Bumbu halus:
8 butir bawang merah
5 siung bawang putih
5cm kunyit
sat jempol lengkuas
3 buah cabe merah
1 sdm ketumbar
 1 sdt merica
gula
garam

Bumbu lain:
5 lembar salam
5 lembar daun jeruk

Santan cair yang cukup hingga ayam terendam

1 gelas santan pekat

10 buah cabe rawit untuk dimasukkan utuh

Cara memasak:
1. Tumis bumbu halus sampai harum, tambahkan bumbu lainnya, tambah gula garam dan merica.
2. Masukkan ayam, aduk-aduk
3. Tambahkan santan cair, pindahkan ke panci presto. Masak 20 menit dari desisan.
4. Setelah tutup bisa dibuka, masukkan santan cair dan cabe rawit, koreksi rasa.
5. Lanjutkan memasak sampai mendidih.
6. Taburi bawang goreng, lodho siap dihidangkan.

Mudah ternyata, yaa... Selamat mencoba, :-)

Wednesday, 14 June 2017

Semangkuk Tekwan Hangat

Saya punya grup ibu-ibu yang rameee. Tempat berbagi kasih sayang, perhatian, doa dan tak lupa curcol a la emak-emak. Pagi itu, ada yang nanya menu sahur kami. Seperti biasa, kami pun bersahutan menjawabnya.

Eits, jangan salah... bagi kami, para emak, berbagi menu tak sekadar berbagi cerita, lho. Tapi juga sumber inspirasi. Dengan membayangkan menu teman, kami pun jadi pengen niru. Dan pastinya, ini mengurangi pikiran tentang "menu apa yang akan kami sajikan untuk keluarga tecinta, nanti" hehehe.

Maka, ketika ada Mama yang cerita bahwa suaminya makan tekwan, saya pun ngacai. Pucuk dicinta ulam tiba. Di kulkas masih ada persediaan fillet ikan lauro dan umaknya pempek. Tinggal beli jamur kuping, bengkoang, bunga sedap malam dan beberapa bumbu seperti yang ada di resepnya Mbak Endang JTT.

Alhamdulillah, tekwan pun jadi, deh.



Nah, berikut resep lengkapnya yaaaa... Selamat mencoba :-)

Biji tekwan:

Pertama buat umaknya:
200ml air
50 gram terigu serbaguna
6 siung bawang putih diparut
2 sdm minyak goreng
1 sdm garam
2 sdt gula

  • Masukkan semua bahan umak ke dalam panci kecil, jerang di atas api sambil diaduk terus sampai rata dan matang. Jangan sampai kalis. Yang pentingdah kental saja. Sisihkan, dinginkan. Masukkan kulkas 30 menitan. 

700gram fillet ikan gindara (boleh apa saja. Saya kadang memakai lemadang, gindara dan pernah beberapa kali menggunakan tengiri)
2 butir telor
150ml air

  • Masukkan ikan dan umak ke dalam food processor (FP) lalu giling. Setelah tercampur rata, tambahkan telor dan air, puter terus sampai benar-benar rata.
  • Letakkan ke dalam wadah yang cukup besar, tambahkan tepugn sagu sedikit demi sedikit sampai bisa dipulung. Nggak perlu kalis. Penampakan adonannya masih lemes. Tenang, nanti disendokin aja kayak buat bakso hehehe. Ohya, saya tambahkan segenggam daun bawang yang sudah diiris 1 cm an. Biar lebih sedap dan cantik.
  • Rebus 3 liter air, tambahkan 2 sdm minyak goreng lalu didihkan. Dengan menggunakan dua sendok, buat biji-biji tekwan. Caranya persis seperti  waktu kita membuat bakso.
  • Sisihkan.

Kuah tekwan:
3 liter air, rebus sampai mendidih
300 gram udang kupas, potong kecil-kecil.
6 butir bawang merah, cincang
6 siung bawang putih, cincang
3 serai, ambil putihnya, iris tipis
5 lembar daun jeruk, buang serat tengahnya
3 ruas jari jahe, kerik kulitnya, belah dan keprek
1 sdt merica bubuk (dari merica butiran yang diblender sendiri)
5 sdt garam
2 sdt gula
3 batang daun prei yang diiris 1 cm an
segenggam bawang goreng
2 batang wortel, potong korek api
segenggam penuh bunga sedap malam (di Malang, saya belinya di pasar Oror-Oro Dowo. Belinya setengah ons, seharga Rp. 7.000,00. Saya ambil 3/4 nya)
1 buah bengkoang ukuran sedang, potong korek api
2 genggam jamur kuping, iris memanjang lebar 1 cm an.
soun secukupnya, masukkan ke dalam air mendidih. Biarkan sampai lembut.

  • Rebus air, masukkan wortel, jamur kuping, bengkoang dan bunga sedap malam.
  • Setelah setengah masak, tambahkan biji tekwan, lanjutkan merebus.
  • Tumis bawang merah, putih, jahe, serai dan daun jeruk sampai wangi. 
  • Tambahkan udang, tumis sampai berubah warna. Masukkan tumisan ke dalam panci. 
  • Tambahkan garam, gula, merica.
  • Masukkan soun.
  • Tambahkan daun bawang dan terakhir taburi bawang goreng.
  • Tekwan siap dihidangkan :)
Sekali lagi, selamat mencoba yaaa... Insya Allah seger buat berbuka :)