Sunday, 28 June 2020

Bakwan a ka Bala-bala

Sejak zaman dulu hingga bulan lalu, aku tidak pernah sukses membuat bakwan, weci a ka bala-bala. Jika tidak lembek, terlalu keras, asin, tawar, atau masalah lain yang intinya tak pernah enak.

Menjelang lebaran, saat aku mengambil lontong di rumah Teh Nisa, aku dikasih bala-bala rasanya sedaaaappppp sekali. Pas banget buat buka puasa.
Beberapa hari kemudian, Teh Nisa mengirimi kami adonan bala-bala. MasyaAllah baiknyaaa. Mana diajarin pula resep dan tipsnya: jangan encer! πŸ˜„

Berbekal tips tersebut kuberanikan membuat bala-bala lalu mencatatnya dengan detail. Nahhh ini dia resep a la bude Ar yaa:

150 gram sayur campur: wortel. kubis, seledri, daun abwang, bawang india semuanya diiris-iris tipis
300 gram tepung cakra
460 ml air mentah

Bumbu halus:
5 siung bawang merah
3 butir bawang putih
1 sdt garam
1 sdt peres gula pasir
1/2 sdt merica

Semua dicampur sampai rata lalu goreng dengan minyak panas.

Sajikan bersama cabe atau petis yaa...


Nasi Mandhi Kesukaan

Saat kami silaturahim ke rumah Bu Terry di JB tahun lalu, kami disuguhi nasi mandhi lengkap bersama salad, sambal dan minuman. Rasanya sedap hingga menjilat jari, kata orang Melayu. Tak berhenti sampai di sana, beberapa hari kemudian kami ditraktir di resto Wadi Hana Elarabi. Sebuah resto Arab terkenal di tengah kota JB.




Dan kejutan terus berlanjut sewaktu kami diberi bingkisan berupa paket lengkap nasi mandhi: beras basmathi, aroma asap dan rempahnya. MasyaAllah, bahagia tak terkira.



Sejak saat itu, nasi mandhi menjadi salah satu menu andalan saya. Jika ada tamu, atau saat berkunjung ke rumah Ibu, saya membawanya. Bahkan ketika Farid khitan, salah satu sajiannya adalah nasi mandhi. Alhamdulillah 😍😍😍

Daannn, berikut resep dan langkah-langkahnya ya:

1. Cuci 700gram beras basmathi lalu rendam selama 30 menit. Tiriskan.

2. Selama beras direndam, masak daging kambingnya.

1 kg paha kambing diblansir lalu tiriskan.

Tumis dengan minyak dorang atau zaitun:
15 butir bawang putih utuh sampai keemasan
1,5 buah bombay ukuran besar yang sudah dipotong dadu, sampai bening
4 buah cabe hijau besar, sampai harum
Tambahkan 2 sdt rempah mandhi, aduk merata.
Tambahkan 1.5 sdt garam dan 1 sdt gula pasir, aduk-aduk.

Masukkan daging aduk rata, tambahkan air sampai daging terendam. Tambahkan 1 sdt aroma asap dan 1/2 sdt shafron. Aduk-aduk, tutup panci presto. Dari mendesis, masak 20 menit.

Masak nasi:

Tumis sesuai urutan bersama minyak zaitun atau dorang:

15 butir bawang putih utuh sampai keemasan
1,5 buah bombay ukuran besar yang sudah dipotong dadu, sampai bening
2 buah cabe hijau besar dan 1 buah paprika hijau, sampai harum
Tambahkan 1 sdt rempah mandhi, aduk merata.
Tambahkan 1.5 sdt garam aduk-aduk.
Tambahkan 1 sdm minyak sapi, aduk sampai harum.

Masukkan ke dalam rice cooker yang sudah berisi beras dan air. Tambahkan 4 sampai 5 sendok sayur ukuran besar air rebusan kambing mandhi. Tambahkan 1 sdt aroma asap, tutup rice cooker.

Setelah nasi matang, tambahkan shafron di 5 titik permukaan nasi. Tutup kembali biarkan selama 10 menit. Buka dan aduk sekenanya sehingga tercipta nasi dengan gradasi warna yang cantik.

Untuk sambalnya, rebus cabe rawit dan bawang putih lalu blender bersama sebatang daun ketumbar dan sedikit garam.



Salad:
1 kuntum iceberg lettuce, sobek-sobek
1 batang timun jepang, bagi 4 dan iris agak tebal
1 paprika merah, slice
1 buah bawang india iris tipis

Tambahkan 2 sdt gula, 1/2 sdt garam, 2 atau 3 sdm minyak zaitun, perasan 1/2 buah lemon dan lada hitam secukupnya. Aduk rata.



Nah, dagingnya bisa langsung dimakan atau dibungkus aluminium foil dan dibakar dalam oven.

Selamat mencoba. Salam dari Bude Ar πŸ˜€





Saturday, 27 June 2020

Bihun Goreng

Sudah lama sekali ingin menulis di blog ini lagi. Ya, sejak pertengahan Maret, anak-anak diliburkan karena pandemi yang melanda. Tak pernah kami duga sebelumnya jika kami akan melewati masa-masa bersama, selalu, di dalam rumah.

Exciting? Pastinya. Bayangkan, sejak akhir 2015 kami jarang sekali bersama.

Ayah mengajar di Bandung, setidaknya 400km dari rumah. Datang setiap 10 hari sekali, bertahan di rumah selama 5 hari dan begitu seterusnya. Abang dan Mas sibuk sekolah dari pagi sampai sore. Bahkan sejak masuk Smanti, Abang soooo busyyy. Diantar paling pagi dan pulang by Gojek paling malam: jam 8, 8.30 bahkan beberapa kali lebih malam dari itu. Selain sekolah, futsal, SKI, Abang juga les di GO. Terkadang dia juga ngopi bareng genkπŸ˜‚

Jadi sering-seringnya hanya Farid dan mama yang banyak menghabiskan masa di rumah ini. Itupun belakangan Farid mulai sibuk karate dan les English. Duh, budak kicik ini, suka sekali les katanya πŸ˜‹

Pokoknya akhir-akhir ini mama merindukan masa-masa saat terus bersama seperti di JB dulu.

Lalu tibalah masa pandemi ini. Ayah wfh. Abang dan adik-adiknya SFH. Mama speechless. Alhamdulillah ala kulli hal. Betapa Allah Mahalembut, mengabulkan ingin hati mama.

"Allah mudahkan Ayah menebus waktu, ya Ma. Hingga bisa bersama anak-anak dan Mama lagi," ujar Ayah suatu hari. Aku tersenyum.

Allahu Akbar!

Maka tiga bulan kemarin menjadi masa-masa yang tak akan pernah terlupakan. Saat-saat awal diwarnai dengan kesibukan menggila di dapur karena makanan cepat sekali habis πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
Mama pun mengeluarkan segala resep makanan agar seluruh anggota keluarga selalu semangat. Ayah memastikan persediaan buah tak pernah telat karena katanya buah bisa meningkatkan imunitas.

Alhamdulillah, masa pandemi ini segala bisa dibeli dengan mudah melalui pasar online. Paprika yang pernah sekilo 50 ribu mendadak menjadi 17ribu saja. Daging slice mudah didapat hingga bisa membuat beef teriyaki. Ikan kakap hitam mudah didapat. Daging Mbak Ami dan ayam kampung pun bisa didapat dengan wa. Mama juga mendapat link pemasok sayuran organik. Tukang sayur keliling pun siap dengan berbagai jenis sayur yang awalnya hanya Mama dapat di pasar Oro-oro Dowo.

Alhamdulillah... syukur pada Allah.

Salah satu pencapaian mama adalah berhasil membuat bihun goreng. Pencapaian? Iyaa, sebab selama ini selalu gagal wkwkwkw. Ok, berikut resepnya yaa.



Bahan:
1 pack bihun jagung. Yup, ternyata bihun jagung ini tahan banting. Tak mudah patah seperti bihun beras.
3 butir telur, buat orak arik
Sosis jika suka
Sayuran hijau: boleh pokcoy atau lainnya. Kadang Mama juga mengikutsertakan jamur, paprika dll 

Rebus bihun dalam air mendidih sampai lunak, tiriskan, siram di bawah air mengalir sampai bihun dingin.

Tumis:
3 atau 4 butir bawang putih geprek
1 atau 2 butir bawang merah iris
1 bawang bombay iris

Setelah bawang harum, masukkan garam, gula dan merica, aduk-aduk. Tambahkan kecap, saus tiram, saus tomat, kecap asin dan minyak wijen.Aduk-aduk, masukkan bihun,orak arik telor, bawang daun dan sayuran. Aduk rata. Cicip rasa.

Biasanya bagian ini Mama akan memanggil Abang. Mama males ngincip masakan sendiri hihihi.

Setelah semua pas, angkat dan sajikan dengan taburan bawang goreng dan seledri.

Friday, 6 March 2020

Lagu Lama dan Rencana Nasi Kerabu

Bagiku yang melow, mendengar lagu lama saja membuat air mata berurai. lagu-lagu Vina Panduwinata mengingatkanku pada Almarhum Bulik yang mirip si burung camar. Lek Roh, demikian kami memanggilnya, adalah adik perempuan Bapak satu-satunya. Al Fatihah 😒😒. Bulik sangat pemurah padaku dan Rikha. Tak jarang beliau mengajak kami jalan-jalan ke kota atau membawakan kami oleh-oleh yang kami suka. Aku pernah diberi hadiah kotak pensil mewah. Beranjak remaja gantian aku dan Rikha yang sering menginap di rumah Bulik di Bululawang. Hidup a la orang desa kata Lek Roh. Mandi di sungai, mencari selada air di umbul, atau jalan malam-malam sekadar mencari pangsit. Rindunya. Semoga Allah tempatkan Almarhumah di tempat terbaik di sisiNya. Diampunkan dosanya dan dilimpahi kasih sayangNya. Aamiin.

Saat Chrisye menyanyikan lagunya di Utube Asusku, ingatan melayang pada masa-masa awal aku merantau. Menjadi trainer kala itu, aku seringkali ke lapangan. Melatih maupun ikut pelatihan. Lagu Chrisye sangat membekas di hati saat Pelatihan Pelatih di Tasikmalaya. Hari itu hampir seluruh pelatih selindo berkumpul di sebuah hotel di Tasik, mengikuti ToT.
Pelatih LAPENKOP adalah orang-orang yang menyenangkan. Hidup begitu berwarna bersama mereka. Setiap waktu kami isi dengan kegiatan-kegiatan yang menimbulkan tawa. Aku yang introvert digembleng menjadi seorang yang terbuka di sana. Diajarkan untuk mudah bergaul dengan siapa saja. Diajari tampil di depan umum: tak hanya melatih tetapi juga menyanyi dan menari poco-poco langsung oleh kawan-kawan dari Manado. MasyaAllah.
Bagi kami alumninya, LAPENKOP adalah rumah. Tempat anggotanya bagai keluarga. Hubungan yang terjalin di sana sudah bukan seperti kawan tetapi layaknya saudara. Bang Yuzri Almarhum, mantan Direkturnya, mengajarkan banyak ilmu dan wawasan pada kami. Semoga Allah mengampunkan beliau dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi Sang Maha Penyayang. Aamiin.

Ya Allah... Sungguh aku bersyukur padaMu atas setiap detik penuh warna yang kulewati. Tolong, berikan kehidupan yang lebih baik pada anak-anakku, agar mereka pun merasakan kebahagiaan dan pengalaman yang lebih indah daripada yang kudapatkan. Aamiin.

Dan malam ini kututup dengan lagu saat kami di JB dulu. Aweera Mojo dan Anuar Zein. Makin malam aku tidak mau melow-melow lagi. Kualihkan fikiran pada masakan kesukaan di sana. Di depan dapur ada bunga telang yang rajin mengembang. Dan aku ingin membuat nasi kerabu.

Semoga besok atau lusa bisa mewujudkannya.



Monday, 24 February 2020

Kepiting Saus Padang

Di rumah kami, seafood seringkali kuhindari sebab Thariq alergi. Ga tega aja kita makan sedap-sedap di depannya. Tapi karena Zaki sedang agak susah makan, hari ini aku pesan kepiting di Pak Ikan. Rencananya, Mama Bintang akan datang mengajari kami: aku dan Mama Byan untuk masak kepiting saus padang.

Instruksinya, setelah serah terima kepiting langsung masukkan freezer. Ok baiklah, tanpa kuapa-apakan kepiting dalam kresek langsung masuk ke freezer.Setelah Mama BB datang, kami pun mulai memasak. Mengupas bawang merah dan putih, membuang biji cabe dan mengupas jahe. Eh, bukan aku sih yang melakukan, tapi Mama BB hihihi.

Pokoknya aku tinggal blender bumbu yang sudah disiapkan.

Ini detailnya yaa.

15 butir bawang merah
1 bonggol besar bawang putih
7 cabe merah
3 cm jahe
1 butir bawang bombai besar, iris kasar
saus tiram
saus tomat
garam gula merica
minyak wijen

Pertama-tama, kepiting disikat sampai bersih lalu kukus segera sebelum dia sadar :D
Ngukusnya 10 menit saja. Selama ngukus kita siapkan bumbu: blender, tumis sampai harum,

Semua bumbu diblender. Tumis bersama irisan bawang bombay yang sudah ditumis lebih dulu sampai layu. Setelah wangi baru masukkan saus-saus dan garam gula merica. Masukkan kepiting, aduk2. Kocok telur dan masukkan ke wajan, aduk2 rata sampai matang. Beres dehhhh.

Selamat mencoba yaaa

Saturday, 15 February 2020

Bali Makarel dan Tempe

Berkali, dalam hidup aku mengalami hal-hal di luar bayanganku. Seperti yang terjadi hampir sepuluh hari lalu. Kami sedang berbahagia karena Bapak dah berangsur pulih. Ibu yang sejak awal berencana ke Bandung bersama Lek Sus dan Mbak Atik, sepupuku, melanjutkan niat beliau. 'Dibarengkan dengan niat Mas Satria pindahan saja," ujar Ibu kala itu.

Kholis, adikku pun berinisiatif membelikan beliau bertiga tiket kereta api. Siang itu kujemput ketiganya dan kuantar ke stasiun. Suasana begitu bahagia.

Esok paginya, kumulai rutinitas baru, mengantar makanan untuk Bapak dan Kholis. Semua berjalan lancar. Aku pulang beberapa jam kemudian setelah semua settle.

Di jalan, kunikmati alunan musik rancak. Sesekali aku ikut bersenandung. Semua masih bahagia hingga saat aku masuk ke dapur setelah mengantarkan si sulung ke depan menemui gojeknya, aku mendapati telepon dari Mas.

Suara Lek Sus terdengar di seberang.

"Ar, ojo kaget ya tak kabari. Ibu tibo. Bla... bla... bla... "

Aku berusaha mencerna setiap kalimat Bulikku tapi beberapa miss dari pendengaran dan otakku. Aku tahu, menghadapi situasi begini aku harus ridho. Allah sudah mengukur semuanya dan menjadikan ketentuan ini insyaAllah terbaik bagi kami.

Sepanjang hari itu, aku tak beranjak dari kasur di lantai atas. Telepon tetap di genggaman, wa... telepon... video call. Mbak Atik, Lek Sus, Mas. Bergantian.

Jika beberapa menit saja tak berbalas, air mata menitik.

Allah... Allah... kuatkan hamba, bisikku dengan linangan air mata.

Siangnya, "Ma... kata dokter bedah plastik, Ibu angkat jahitan Sabtu. Jadi Ibu pulang minggu depan ya, insya Allah Senin sampai. Mama urus Bapak di sana, Ayah bantu Ibu di sini."

Kabar kedua dari ayahnya anak-anak harus kuterima. Bismillah. Semoga Allah mudahkan.

Menjelang sore kukabari Kholis dan dia tenang menerimanya. Hingga beberapa hari berikutnya kami berkoordinasi. Bekerjasama. Kholis yang bersihkan rumah, aku yang menyediakan makanan. Alhamdulillah lancar.

Dan benar, tak ada sedikit pun keraguan bahwa skenarioNya adalah yang terindah. Mundurnya Ibu dan rombongan kembali ke Malang membawa kebahagiaan untuk beliau bertiga. Bapak pun saat diberitahu bahwa kepulangan Ibu ditunda, bisa menerima dengan tenang.

Alhamdulillah, tanpa sengaja Allah memberikan liburan pada tiga perempuan yang mungkin sebelum ini tak pernah berlibur.

Barakallahu fiikum Bu, Lek dan Mbak.

Dan selama beberapa hari menyediakan makanan, kulihat menu ini menjadi salah satu menu fav Bapak.

Bali tempe dan makarel

Bahan:
2 papan tempe dipotong dan digoreng. Jangan terlalu kering.
1 ekor makarel dipotong dan digoreng,

Bumbu:
10 butir bawang merah
5 siung bawang putih
3 buah cabe merah buang isi
1 ruas jahe kupas
1 buah tomat besar

Semua bumbu diblender, tumis dengan minyak kelapa sampa harum lalu tambahkan kecap manis. tambahkan air.Masukkan semua bahan dan aduk rata. Biarkan sampai air meresap dan setengah mengering.

Disajikam demgam bening gambas, duh segernya :)

Sunday, 18 August 2019

Iedul Adha dan Nasi Arab

Iedul Adha kali ini berlimpah daging, MasyaAllah. Dari jatah qurban kambing dan sapi, RT, hadiah dari Ibu supaya Bapak jauh-jauh dari olahan kambing, jatah panitia qurban Smanti, liqo'an, bahkan ada pemberian seorang kawan baik. Bu RT wilayah atas hehehe. Jika dihitung-hitung, lebih sepuluh kilo segala rupa daging itu duduk manis di kulkas.

Jadi ingat bertahun lalu di tanah rantau. Saat kami tak terlibat organisasi apa pun, saat pertama-tama menjadi keluarga pelajar, jatah daging Qur'ban sangatlah kami harapkan. Ya maklum, biasanya kami beli daging sapi beku yang murmer. Maka ketika dapat daging yang baru dipotong, itu akan menjadi berkah luar biasa bagi kami.

Seperti hari itu. Sekresek daging dan tulang diserahkan pada saya untuk dibagi 4 sama rata. Kalau membagi daging sih mudah ya. Tinggal memotong lalu menimbangnya, beres deh. Lha tulang? Tulang kaki alias sekengkel orang Jawa bilang, kudu dibagi empat juga. Subhanallah, syusyah sekali. Meski saya punya sebuah pisau khusus buat mecah-mecah tulang, tetap saja pengalaman itu tak akan terlupakan wkwkwkw. Aku pun jadi tahu, betapa berat pekerjaan seorang penjual daging di pasar yaa. Pendek cerita semua bagian sudah disampaikan ke yang berhak, Alhamdulillah ala kulli hal.

Nah, mumpung persediaan daging melimpah, mari kita mengolahnya sedikit demi sedikit sampai semuanya habis hehehe. Salah satu menu yang bisa dicoba adalah nasi mandhi. Pertama kali makan di rumah Bu Terry, saya langsung jatuh cinta pada rasanya. Ditambah pengalaman makan nasi mandhi asli di resto Arab di JB, yang lagi-lagi ditraktir oleh Bu Terry.
MasyaAllah... sedap sekali. Dengan aroma smoke alias sangit, masakan ini sama sekali tidak eneg. Dan ketika Bu Terry memberi saya buah tangan berupa paket nasi mandi lengkap, saya pun tak sabar untuk mencobanya.

Berikut resep nasi mandi a la chef Ammar yaa. Bumbu-bumbunya sudah tersedia instant. Saya sendiri belum pernah membuatnya sendiri. Tapi ini saya sertakan resep yang dikirimkan Bu Terry. Semoga bermanfaat :)

Bahan:
500 gram beras basmathi dicuci bersih, direndam 20-30 menit, lalu ditiriskan.

Dalam panci presto:
Tuang minyak zaitun agak banyak
Tumis 10-15 buah bawang putih utuh sampai keemasan
Tambahkan 1 buah bawang bombay yang sudah dipotong kecil, tumis sampai harum
Tambahkan 6-8 buah cabai hijau besar yang sudah dipotong dua, lanjutkan tumis sampai harum.

Masukkan 1,5 sdm rempah mandi, aduk rata sampai harum.

Masukkan daging atau tulang iga atau ayam atau ekor sapi ke dalam panci. Aduk-aduk sampai agak berubah warna, tambahkan air, 1 sdm garam dan sedikit safron lalu tutup rapat. dari bunyi desisan masak 30 atau 40 menit.Setelah uap air habis, buka dan tiriskan dagingnya. Bungkus aluminium foil lalu oven kira-kira 20 menit.

Nah, bagaimana masak nasinya?
Hampir sama sih, tapi kita menggunakan minyak samin bukan lagi zaitun.

Berikut resepnya ya.

Bahan dan cara membuat:
Di wajan, tuang minyak goreng ditambah 1 sdm minyak samin lalu tumis berurutan bawang putih sampai keemasan, bawang bombay sampai bening transparan lalu cabai hijau besar sampai harum. Masukkan 1 sdm rempah mandi aduk rata. Tunggu sampai benar-benar harum.

Di rice cooker, masukkan nasi dan air secukupnya. Tambahkan 2 sendok sayur ukuran besar sisa air rebusan daging. Tambahkan bumbu yang sudah ditumis, taburi 1 sdm garam. aduk rata, tutup dan masak sesuai prosedur. pada saat 5 menit menjelang masak, taburi safron pada beberapa bagian. Lanjutkan memasak sampai tanak. Buka, aduk perlahan agar nasi tidak patah-patah.

Nah, berikut resep pelengkapnya:
Salad sayur segar, dalam sebuah wadah besar masukkan:

1 buah Iceberg lettuce sobek2 kecil
1 buah bawang merah besar iris tipis
8 tomat cherry, boleh dipotong 2 atau utuhkan
5 lembar kubis ungu iris tipis2

campur sayuran dengan 2 sdm minyak zaitun, serbuk lada hitam secukupnya, perasan lemon (setengah saja), gula dan garam himalaya. Aduk rata, cicip rasa, siap dihidangkan.

Oh iyaa, satu lagi ya. Sambal Arab. Ini mah cuma cabe rawit, bawang putih sebiji dan tomat. Rebus lalu blender, tambahkan garam gula secukup rasa. Kalau aku ditambah daun cilantro alias daun ketumbar. Seger.

Selamat memasak dan makan yaaa...

Rempah nasi mandi ini bisa didapatkan di marketplace seharga 85 ribu sebungkusnya. Kata teman dan saudara yang pernah makan, nasi mandi resep dari Bu Terry ini sungguh sedap <3